banner

Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing


Problem posing adalah model pembelajaran yang mengharuskan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar (berlatih soal) secara mandiri (Suyitno dalam Virginia : 2007).
Menurut Silver (dalam Hajar, 2001) problem posing memiliki beberapa pengertian. Pertama, problem posing ialah pengajuan soal sederhana atau perumusan ulang suatu soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka menyelesaikan soal yang rumit. Kedua, perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah diselesaikan dalam rangka mencari alternatif penyelesaian atau alternatif soal yang masih relevan. Sedangkan pengertian yang ketiga, perumusan soal atau pembentukan soal dari suatu situasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika, atau setelah menyelesaikan suatu soal. Menurut Silver dalam Luwis (2008) dikenal beberapa jenis problem posing antara lain :
a.       Situasi problem posing bebas, siswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengajukan soal sesuai dengan apa yang dikehendaki siswa. Siswa dapat menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan untuk mengajukan soal.
b.      Situasi problem posing semi terstruktur, siswa diberikan situasi/informasi terbuka. Kemudian siswa diminta untuk mengajukan soal dengan mengkaitkan informasi itu dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Situasi dapat berupa gambar atau informasi yang dihubungkan dengan konsep tertentu.
c.       Situasi problem posing terstruktur, siswa diberi soal atau penyelesaian soal tersebut, kemudian berdasarkan hal tersebut siswa diminta mengajukan soal baru.
Sesuai dengan kedudukan problem posing merupakan langkah awal dari problem solving, maka pembelajaran problem posing juga merupakan pengembangan dari pembelajaran problem solving. Silver dalam Luwis (2008) menyatakan bahwa dalam problem posing diperlukan kemampuan siswa dalam memahami soal, merencanakan langkah-langkah penyelesaian soal, dan menyelesaikan soal tersebut. Ketiga kemampuan tersebut juga merupakan sebagian dari langkah-langkah pembelajaran problem solving.
Dalam problem posing siswa tidak diperlakukan sebagai objek, dan guru bukan merupakan suatu objek. Keduanya mempunyai posisi yang sama. Guru hanya berperan sebagai pemantau dan mengarahkan pertanyaan siswa sehingga bermanfaat untuk menyelesaikan soal yang selanjutnya sampai pada pemahaman suatu konsep. Pembelajaran dengan pendekatan problem posing sangat penting agar siswa memiliki pengalaman dalam mengenali dan merumuskan soalnya sendiri dan ini merupakan inti dari pemecahan masalah. Sebagaimana rekomendasi Profesional Standar for Teaching (Silver dalam Luwis : 2008) yaitu :
” Bahwa siswa seharusnya memiliki pengalaman dalam mengenali dan merumuskan soal-soal sendiri, suatu kegiatan yang merupakan inti dari problem solving dan menekankan pentingnya para guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat sendiri soalnya.”

Dalam pembelajaran dengan problem posing dapat diterapkan dalam kelompok. Hal ini dimaksudkan agar guru mudah memantau aktivitas siswa selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung dan memudahkan guru dalam pemeriksaan hasil kegiatan. Selain itu, agar suasana pembelajaran dengan problem posing ini menarik dan menyenangkan, maka kelompok yang mampu membuat dan menyelesaikan lebih dari satu atau dari ketentuan guru akan diberi penguatan. Keberhasilan pelaksanaan tindakan ini dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam membuat soal dan menyelesaikannya. Apabila kemampuan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran dengan problem posing meningkat berarti kemampuan siswa dalam menerapkan konsep pelajaran juga meningkat. Hal ini juga akan meningkatkan hasil belajar siswa.
Kelebihan pendekatan pembelajaran problem posing adalah :
a.       siswa dapat meningkatkan kemampuan  pemecahan masalah
b.      dapat mengembangkan pengertian prespektif yang lebih baik
c.       dapat mengurangi rasa cemas
d.      dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan kritis
e.       dapat meningkatkan motivasi dalam belajar (Kusasi dalam Eflinawati: 2003).
Kelemahan pendekatan problem posing adalah siswa yang berkemampuan rendah tidak dapat menyelesaikan soal yang dibuat, demikian juga dalam menyelesaikan soal-soal yang dibuat oleh teman-temannya (Darnati dalam Eflinawati :2003).
Auerbach dalam Ana (2006) menyatakan bahwa langkah-langkah dalam pembelajaran dengan pendekatan problem posing secara sistematis tahapannya meliputi : (a) mendeskripsikan isi, merupakan kegiatan menjelaskan aspek-aspek penting yang digunakan dalam pembentukan soal. Tugas dapat diambil dari materi yang telah dipelajari (b) mendefinisikan masalah, merupakan kegiatan siswa mengartikan masalah dan  mencari apa yang menjadi masalah dalam tugas tersebut (c) memilih masalah, pada tahap ini guru menjadi fasilitator, membimbing siswa memilih dan menyusun analisis masalah yang mereka ambil, sehingga siswa dapat memahami masalah yang dibuat, (d) mendiskusikan masalah, guru sebagai fasilitator mengarahkan siswa ke suatu diskusi untuk mendiskusikan masalah yang mereka ambil (e) diskusi alternatif, guru mengoreksi hasil diskusi siswa, dengan melatih siswa dalam memberikan pemecahan masalah dan mendiskusikannya. Guru membimbing siswa dalam mencari alternatif lain dalam permasalahannya jika dianggap perlu.
Petunjuk pembelajaran yang berkaitan dengan Guru/Dosen
1)      Guru/Dosen hendaknya membiasakan merumuskan soal baru atau memperluas soal dari soal-soal yang ada di buku pegangan.
2)      Guru/Dosen hendaknya menyediakan beberapa situasi yang berupa informasi tertulis, benda manipulatif, gambar, atau lainnya, kemudian guru/dosen melatih siswa merumuskan soal dengan situasi yang ada.
3)      Guru/Dosen dapat menggunakan soal terbuka dalam tes.
4)      Guru/Dosen memberikan contoh perumusan soal dengan beberapa taraf kesukaran, baik isi maupun bahasanya.
5)      Guru/Dosen menyelenggarakan reciprocal teaching, yaitu pembelajaran yang berbentuk dialog antara guru/dosen dan siswa/mahasiswa mengenai isi buku teks, yang dilaksanakan dengan cara menggilir siswa berperan sebagai guru.
Petunjuk pembelajaran yang berkaitan dengan Siswa/Mahasiswa
1)      Siswa/Mahasiswa dimotivasi untuk mengungkapkan pertanyaan sebanyak-banyaknya terhadap situasi yang diberikan.
2)      Siswa/Mahasiswa dibiasakan mengubah soal-soal yang ada menjadi soal yang baru sebelum mereka menyelesaikannya.
3)      Siswa/Mahasiswa dibiasakan untuk membuat soal-soal serupa setelah menyelesaikan soal tersebut.
4)      Siswa/Mahasiswa harus diberi kesempatan untuk menyelesaikan soal-soal yang dirumuskan oleh temannya sendiri.
5) Siswa/Mahasiswa dimotivasi  untuk menyelesaikan soal-soal non rutin. (Sutiarso :2000 dalam www.google.com)

Entri Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

joint now

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme
Terima kasih atas kunjugan dari para pencari ilmu sekalian, semoga apa yang kami tulis dapat berguna bagi anda.http://mediaolinefisika.com, jangan lupa komentarnya.karya WINARNO,M.Pd.Si dalam inovasi media pembelajaran