Salah satu tujuan utama persekolahan adalah meningkatkan kemampuan siswa
untuk belajar berfikir kreatif. Berfikir adalah adalah merupakan aktifitas
mental untuk dapat merumuskan pengertian, mensintesis, menarik kesimpulan,
membuat keputusan rasional tentang apa yang diperbuat atau apa yang diyakini.
Pengajaran afektif tentang berfikir kreatif bergantung kepada penataan suasana
kelas yang mendorong penerimaan pandangan berbeda dan diskusi bebas( Indotang,
2004 :7).
Soeparman dan Nur (2000) menyatakan bahwa
model pengajaran, yang telah dikenal sejak zaman John Dewey, telah mengalami
perbaikan selama dekade yang lalu. Model pengajaran ini berlandaskan
permasalahan, merupakan pendekatan yang sangat efektif untuk mengajarkan
proses-proses berfikir tingkat tinggi, membantu siswa memproses informasi yang
telah dimilikinya, dan membantu siswa memperoleh informasi yang telah
dimilikinya dan membantu siswa membangun sendiri pengetahuannya tentang dunia
sosial dan fisik disekelilingnya, berdasarkan pendapat inilah peneliti
menerapkan pembelajaran berfikir kreatif yang ditekankan pada pemecahan suatu
masalah.
Menurut Ibrahim dan Nur (2004) bahwa untuk pelajaran IPA, sebagai
reorintasi bahwa model pembelajaran IPA memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Menggunakan permasalahan
kontekstual.
2.
Mengembangkan kemampuan problem
solving.
3. Memberikan kesempatan yang luas untuk
reinvention dan konstruktion konsep, prinsip, definisi, prosedur, dan
rumus-rumus secara mandiri.
4. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam
menarik kesimpulan melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, dan eksperimen.
5. Mengembangkan kreatifitas berfikir yang
melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan melalui pemikiran divergen,
original, membuat predeksi, dan trial-and error.
6.
Menggunakan modeling.
7.
Memperhatikan karakteristik
individu siswa.
Kreatifitas atau berfikir
kreatif, sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan
penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai
saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal. Disekolah
yang terutama dilatih adalah pengetahuan, ingatan, dan kemampuan berfikir
logis, atau penalaran, yaitu kemampuan menemukan satu jawaban yang paling tepat
terhadap masalah yang diberikan berdasarkan informasi yang tersedia, misalnya
matahari terbenam di arah apa?. Pemikiran kreatif (disebut juga pemikiran
divergen) perlu dilatih, karena membuat anak lancar dan luwes (fleksibel) dalam
berfikir, mampu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang, dan mampu
melahirkan banyak gagasan.
Pada intinya pembelajaran
berfikir kreatif sangat mementingkan metode tanya-jawab karena menurut Hasibuan
(1994) untuk mengembangkan pola pikir dan belajar aktif siswa perlu diberikan
pertanyaan sebab “ berfikir itu sendiri adalah bertanya “. Mengajukan pertanyaan dengan baik adalah
mengajar yang baik, jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong
kemampuan berfikir.
Keterampilan dalam berfikir kreatif paling baik dicapai bila berhubungan
dengan topik-topik yang dikenal siswa. Nur (2000:62) berpendapat : tujuan
pengajaran berfikir kreatif adalah menciptakan suatu semangat berfikir yang
mendorong siswa mempertanyakan apa yang mereka dengar dan mengkaji pikiran
mereka sendiri untuk memastikan tidak terjadi logika yang tidak konsisten atau
keliru.
Menurut Munandar (1992) berfikir kreatif
adalah : kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia, menemukan
kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah. Model ini dirancang untuk
meningkatkan kelancaran, kemudahan dan keaslian dalam berfikir ketika siswa
berinteraksi dengan guru dan masalah yang diberikan.
Agar siswa menjadi pemikir yang baik, kita harus memberikan sesuatu untuk
dipikirkan. Salah satu metode untuk membuat anak berfikir secara kreatif adalah
dengan memberikan permasalahan yang bersifat terbuka yang memiliki metode
penyelesaian lebih dari satu cara dan masalah yang manunjukan adanya suatu
tantangan (challenge) yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur
rutin (routine procedure) yang sudah diketahui siswa, maka untuk
menyelesaikan suatu masalah diperlukan waktu yang relatif lebih lama dari
proses pemecahan soal atau masalah rutin biasa. Guru memotivasi, mengarahkan,
memelihara dan meningkatkan kadar atau intensitas proses berfikir peserta didik
atau siswa dapat dipandang sebagai salah satu tugas profesional guru. Proses
berfikir menurut pandangan psikologi kognitif melibatkan proses menyesuaikan
untuk memberi respon dan memecahkan masalah.
Pada model pembelajaran berfikir kreatif ini siswa dituntut dapat
memecahkan masalah melalui kerja sama yang baik dengan teman-teman sebangku
atau kelompok belajar sehingga siswa menjadi aktif dan kreatif. Para siswa
dihadapkan kepada berbagai masalah agar siswa itu berfikir, sehingga mereka
berusaha untuk mengarahkan segala kemampuan yang dimiliki terutama pikiran,
perasaan serta semangat untuk mencari pemecahannya sampai pada suatu kesimpulan
yang diharapkan. Menurut Sugiarto dalam Raharjo (2003:5) menyatakan bahwa
setiap pengetahuan atau kemampuan hanya boleh diperoleh atau dikuasai seseorang
apabila orang itu secara aktif mengkonstruksikan pengetahuan atau kemampuan itu
dalam pikirannya.
Menurut Alsa (2003), agar sukses menggunakan model pembelajaran berfikir
kreatif, guru harus memiliki kemampuan:
1. Membangun suatu keadaan kelas yang
kondusif, dimana semua ide siswa diterima, bukan hanya ide yang memiliki
kegunaan langsung bagi mereka tapi juga untuk gagasan orisinil mereka dan
potensi mereka untuk membawa pada gagasan-gagasan atau pencerahan.
2. Membantu siswa lebih terbuka dan peka
terhadap lingkungan sekitar.
3. Menjamin suasana tidak formal, yang hanya
menghambat pikiran-pikiran orisinil dan kreativitas siswa.
4. Menyediakan stimulasi yang akan
menghasilkan latihan berfikir jernih.
C. Semiawan dan Munandar (1992) mengemukakan beberapa saran untuk
menciptakan iklim dan suasana yang mendorong dan menjujung pemikiran kreatif
dalam pembelajaran:
1. Bersikaplah terbuka terhadap minat dan
gagasan anak atau siswa.
2. Berilah waktu kepada anak/siswa untuk
memikirkan dan mengembangkan gagasan kreatif. Kreatifitas tidak selalu timbul
secara langsung dan spontan.
3. Ciptakan suasana saling menghargai dan
saling menerima antara anak atau siswa, antara anak dan orang tua, dan antara
siswa dan guru atau pengasuh, sehingga anak atau siswa dapat baik bekerja sama,
mengembangkan dan belajar secara bersama maupun belajar secara mandiri.
4. Kreativitas dapat diterapkan dalam semua
bidang kurikulum dan bidang ilmu. Kreativitas bukanlah monopoli bidang seni.
5. Doronglah kegiatan berfikir divergen dan
jadilah nara sumber dan pengarah.
6. Suasana yang hangat dan mendukung memberi
keamanan dan kebebasan untuk berfikir menyelidiki (eksplorasi).
7. Berilah kesempatan kepada anak atau siswa
untuk berperan serta dalam mengambil keputusan.
8. Usahakanlah agar semua anak atau siswa
terlibat dan dukunglah gagasan dan pemecahan anak atau siswa terhadap masalah
dan rencana.
9. Bersikaplah positif terhadap kegagalan dan
bantulah anak atau siswa untuk menyadari kesalahan atau kelemahan serta
usahakan peningkatan gagasan atau usahanya agar memenuhi syarat, dalam suasana
menunjang.
Sekali lagi, inti dari pembelajaran berfikir kreatif adalah pembelajaran
dengan memberikan siswa masalah-masalah yang menantang untuk dikerjakan yang
tidak hanya memerlukan ingatan yang baik saja tetapi kemampuan berfikir logis
serta kemampuan berfikir kreatif yang diperlukan.
Menurut Nur dan Prima (2000), kelebihan dan kelemahan pada model
pembelajaran berfikir kreatif ini adalah sebagai berikut:
Kelebihan
1.
Pelajaran
berjalan tidak membosankan murid-murid.
2.
Pengetahuan
yang diperoleh lebih cepat diingat.
3. Murid yang lebih berperan.
Kelemahan
1. Isi silabus tidak dapat diselesaikan
dengan lebih mudah karena keterbatasan waktu.
2. Kekurangan atau tidak adanya buku
pelajaran dan alat bantu dapat menghambat dilaksanakannya pelajaran.
3. Bahan pelajaran tidak dapat diberikan
secara lebih karena keterbatasan waktu maka bahan pelajaran tidak dapat
diberikan secara lebih.
Menurut Nur dan Prima (2000), sintak pembelajaran berfikir kreatif adalah :
Tabel 2.1
Sintak Pembelajaran berfikir kreatif
|
Fase-fase
|
Tingkah laku Guru dan Siswa
|
|
1.
Pendahuluan
|
Guru menyajikan konsep-konsep dan prinsip-prinsip esensial
suplemen materi ajar, yang diawali dengan memberikan suatu masalah dan siswa
menyimak penjelasan guru, serta memikirkan jawaban atas masalah yang
diberikan.
|
|
2.
Penerapan
|
Guru dan siswa bersama berdiskusi
mengenai materi yang diajarkan.
|
|
3.
Pengembangan
|
Guru memberikan permasalahan yang menunjukan adanya suatu
tantangan (challenge) yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur
rutin biasa (routine procedure), siswa secara individu dan kelompok
berfikir secara kreatif mencari penyelesaian masalah, setelah itu barulah
siswa dan guru mendiskusikan hasil pekerjaan mereka dalam menyelesaikan
masalah tersebut.
|
|
4.
Penutup
|
Guru memberikan tugas atau latihan
soal-soal pemecahan masalah yang menunjukan adanya tantangan.
|