banner

Strategi Pembelajaran Dalam Model Pembelajaran ATI (Aptitude-Treatment Interaction)


            Model pembelajaran ATI merupakan model pembelajaran yang menyesuaikan strategi belajar dengan taraf kemampuan siswa, sehingga dalam model pembelajaran ATI terdiri dari beberapa strategi pembelajaran yang kemudian diberikan pada siswa disesuaikan dengan kebutuhan individu siswa terhadap proses pembelajaran itu sendiri. Bagi kelompok siswa yang memiliki kemampuan (aptitude) tinggi diberikan perlakuan (treatment) yaitu belajar mandiri (Self Learning) dengan menggunakan modul plus yaitu belajar secara mandiri melalui modul dan buku-buku yang relevan. Bagi kelompok siswa yang berkemampuan sedang dan rendah diberikan pembelajaran konvensional sebagaimana biasanya, namun disini guru dituntut harus melaksanakan proses pembelajaran secara optimal. Selanjutnya bagi siswa yang memiliki kemampuan rendah diberikan spesial treatment berupa pembelajaran dalam bentuk re-teaching dan tutorial.
Bagi kelompok siswa yang memiliki kemampuan (aptitude) tinggi, perlakuan (treatment) yang diberikan yaitu belajar mandiri (Self Learning) dengan menggunakan modul plus dan buku-buku yang relevan.
Pengajaran modular pada dasarnya adalah sistem pembelajaran melalui media  yang disebut modul. Modul adalah suatu paket pengajaran yang berkenaan dengan suatu unit terkecil bertahap dari mata pelajaran tertentu, sebab modul itu dipelajari secara individual dari satu unit ke unit lain (Hamalik, 1994: 145).

    Pemilihan belajar dengan modul didasari anggapan bahwa siswa berkemampuan tinggi akan lebih baik belajar jika dilakukan dengan cara sendiri yang terfokus langsung pada penguasaan materinya (Syafruddin, 2005: 50).
            Sebagaimana dijelaskan James D. Russel, 1973 (Syafruddin, 2005; 52) ciri-ciri pembelajaran modul itu sendiri adalah (1) berbentuk pengajaran individual, (2) adanya kebebasan dalam pelaksanaan pembelajaran, (3) keluesan , dan (4) partisipasi aktif.
            Individualized atau pengajaran individual yang menjadi salah satu ciri pengajaran modul, memberikan peluang kepada siswa untuk mengikuti dan menempuh pelajarannya sesuai dengan tingkat kemampuannya (aptitude). Pendapat tersebut mengakui adanya individual difference dikalangan siswa dalam kelas. Kebebasan dalam pembelajaran modul diartikan sebagai kebebasan yang cukup luas bagi siswa untuk belajar mandiri (self learning). Aktivitas siswa dalam pembelajaran modul lebih tinggi bila dibanndingkan dengan aktifitas guru. Karena, guru sifatnya lebih banyak memberikan motivasi atau dorongan pada siswa dalam belajar.
            Dalam pembelajaran dengan modul terdapat keluesan bagi siswaaa dan guru dalam proses belajar-mengajar. Siswa belajar sesuai dengan kesanggupan atau kemampuannya (aptitude) dan seirama dengan gaya belajar mereka masing-masing. Partisipasi aktif dalam modul ini memberikan peluang pada siswa untuk berpartisipasi aktif melalui learning by doing, sehingga siswa betul-betul terlibat dalam proses pembelajaran. Komponen-komponen modul secara lengkap tercangkum dalam: (a) petunjuk guru, (b) lembar kegiatan siswa, (c) kunci jawaban tugas dan (d) lembar tes.
            Sedangkan bagi siswa yang memiliki kemampuan sedang dan rendah diberikan pembelajaran reguler atau pembelajaran konvesional sebagaimana biasanya. Hanya saja selama penelitian dan pengembangan proses pembelajaran berlangsung dilakukan secara optimal. Artinya pembelajaran semaksimal mungkin harus mengikuti petunjuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang telah disusun sebelumnya.
            Terakhir bagi siswa yang mempunyai kemampuan rendah diberikan special treatment, yaitu berupa pembelajaran dalam bentuk re-teaching dan tutorial. Perlakuan (treatment) diberikan setelah mereka bersama-sama kelompok sedang mengikuti pembelajaran secara reguler (regular teaching). Hal ini dilakukan agar secara psikologis siswa berkemampuan rendah tidak merasa diperlakukan sebagi murid dua di kelas.
            Reteaching – tutorial dipilih sebagai perlakuan khusus (special treaatment) untul kelompok ini, didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka sulit dalam memahami serta menguasai bahan pelajaran. Oleh karena itu kelompok ini harus mendapat apresiasi khusus dari guru berupa bimbingan dan bantuan belajar dalam bentuk pengulangan pelajaran kembali melalui tambahan jam belajar (re-teaching) dan tutorial (tuttoring), sehingga dengan cara demikian mereka bisa menguasai pelajaran yang diajarkan. Hamalik (1994: 158) “Berdasarkan definisi konsepnya, tutorial adalah bimbingan pembelajaran dalam bentuk pemberian bimbingan, bantuan, petunjuk, arahan, dan motivasi agar siswa belajar secara efisien dan efektif ”.
            Sehingga dalam pembelajaran tutorial ini terdapat beberapa bidang kegiatan, yaitu (a) pemantapan pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa, (b) memperluas pengetahuan dan pengalaman siswa, (c) membantu siswa dalam menguasai kesulitan dan memecahkan masalah yang mereka hadapi, (d) memperbaiki kelemahan-kelemahan siswa selama di kelas, (e) membina siswa untuk belajar lebih baik.
            Konsep pembelajaran dengan tutorial yang diberikan adalah dengan pembelajaran tutorial kelompok, yaitu pemberian bimbingan pada sekelompok peserta didik yang terdiri atas beberapa orang siswa dalam jumlah lima atau 7 orang siswa pada waktu yang sama, yang menitik beratkan pada kegiatan bimbingan individu-individu dalam kelompok (Hamalik, 1994: 166).

Pelaksanaan dan Tahapan-Tahapan Model Pembelajaran ATI (Aptitude-Treatment Interaction)
            Model Pembelajaran Aptitude-Treatment Interaction (ATI) dikembangkan dengan beberapa langkah sebagai berikut:
1.      Treatment Awal
Pemberian perlakuan awal terhadap siswa dilakukan dengan menggunakan aptitude testing. Aptitude test atau tes kemampuan merupakan alat ukur yang diguankan untuk mengukur kemampuan siswa yang akan mengikuti suatu program (Arikunto, 2005: 20). Perlakuan pertama ini dimaksudkan untuk menentukan dan menetapkan klasifikasi kelompok siswa berdasarkan tingkat kemampuan (aptitude), dan sekaligus untuk mengetahui potensi masing-masing siswa dalam menghadapi pengetahuan atau kemampuan-kemampuan baru.
2.      Pengelompokan Siswa
Pengelompokan siswa yang didasarkan pada hasil aptitude testing. Siswa didalam kelas diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yang terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3.      Memberikan Perlakuan (Treatment)
Pada masing-masing kelompok diberikan perlakuan atau treatment yang dipandang cocok sesuai dengan karakteristiknya. Dalam pendekatan ini kepada siswa yang berkemampuan “tinggi” diberikan perlakuan (treatment) berupa self learning melalui modul. Siswa yang memiliki kemampuan “sedang” diberikan pembelajaran secara konvensional atau regular teaching. Sedangkan kelompok siswa yang memilki kemampuan “rendah” diberikan perlakuan (treatment) dalam bentuk regular teaching dan tutorial.
4.      Achievement Test
Diakhir setiap pelaksanaan ujicoba dilakukan prestasi akademik atau hasil belajar setelah diberikan perlakuaan-perlakuan (treatment) pembelajaran masing-masing kelompok kemampuan siswa (tinggi, sedang, rendah) yaitu proses disetiap siklus. Melalui beberapa kali uji coba dan perbaikan serta revisi diadakan achievement test untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap apa yang telah dipelajarinya. Achievement test merupakan alat untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian siswa atau prestasi belajar mereka setelah mengikuti program (Arikunto, 2005: 22).
     Hal ini sesuai dengan bagan dibawah ini :
                 
Berdasarkan fase-fase pengembangan rencana pengaajaran dan pelaksanaan kegiatan belajaar mengajar bagi ketiga kelompok kemampuan murid yang telah diuraikan sebelumnya, maka bentuk akhir model pendekatan ATI yang dikembangkan melalui penelitian ini dapat diperhatikan pada format berikut.


MODEL PENDEKATAN
APTITUDE –TREATMENT INTERACTION (ATI)
Desain
Mata Pelajaran                         :
Pokok Bahasan                        :
Waktu                                      :
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Sumber daan Media                :
Evaluasi                                  :    1.Tertulis dalam bentuk:
                                                    a)pilihan ganda, b)isian, c)essay
KBM Kelompok Tinggi
  1. Pretes
  2. Self Learning
  3. Tanya jawab dan diskusi
  4. Latihan
  5. Postes
KBM Kelmpok Sedang
  1. Pretes
  2. Kegiatan Pendahuluan
  3. Kegiatan inti
  4. Kegiatan penutup
  5. Postes
KBM Kelompok Rendah
  1. Pretes
  2. Re-teaching daan Tutorial
  3. Menggunakan alat/atau media secara optimal
  4. Pemberian motivasi
  5. Postes
Implementasi
  1. Mengerjakan Pretes
  2. Belajar Mandiri
  3. Tanya jawab dan diskusi
  4. Latihan
  5. Mengerjakan Postes
Implementasi
  1. Melakukan pretes
  2. Kegiatan pendahuluan appresiasi, tujuan, konsentrasi
  3. Kegiatan inti:
  4. Presentasi pelajaran dengan metode, alat/media (cocok), tanya jawab, feed back dan reinforcement, latihan
  5. Menutup pelajaran
a.     Ikhtisar dan tindak lanjut
    1. Melakukan postes

Implementasi
  1. Melakukan pretes
  2. Memberi Re-teaching dan tutorial
  3. Memberdayakan alat/media pelajaran dengan optimal
  4. Memberi motivasi/dorongan
  5. memberi tindak lanjut/tugas
  6. Melakukan postes
Evaluasi dan Penilaian
  1. Tertulis:
  1. Pilihan Ganda
  2. Isian
  3. Essay
  1. Lisan (tak terstruktur)
Evaluasi dan Penilaian
1.Tertulis:
        a.    Pilihan Ganda
        b.    Isian
        c.    Essay
2.  Lisan (tak terstruktur)
Evaluasi dan Penilaian
1.Tertulis:
a. Pilihan Ganda
b. Isian
c. Essay
2.  Lisan (tak terstruktur)
(Syarifuddin, 2005; 167)
            
             Sesuai dengan spesifikasi model, yaitu yang memberikan perlakuan (treatment) yang berbeda kepada masing-masing kelompok siswa (tinggi, sedang rendah), maka dalam rancangan atau format rencana pengajaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak tergambar secara spesifik. Rancangan/format pelaksaan KBM disusun tersendiri.
 Model Pendekatan Pembelajaran ATI pada Pembelajaran Remidial
Meninjau bahwa model pembelajaran ATI memperhatikan perbedaan individual siswa, maka mungkin akan sulit penggunaanya jika diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas yang memiliki jumlah siswa yang relatif banyak. Sehingga untuk mengefisienkan dan menjadikannya efektif, program pembelajaran ATI tersebut diterapkan dalam proses pembelajaran remedial. Dengan demikian setiap siswa mendapatkan bimbingan dan bantuan secara tepat sesuai dengan kesulitan yang dihadapinya.
Pada proses pembelajaran remedial ini model pendekatan ATI yang diterapkan dibuat sedikit berbeda dengan model pendekatan ATI sebelumnya. Hal ini disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan siswa yang mengikuti program remedial itu sendiri. Salah satu perbedaan tersebut terletak pada pengelompokkan siswa, pada program remedial siswa hanya dibagi dalam dua kelompok. Dengan metode pembelajaran yaang digunakan adalah reteaching, tutor sebaya dan tutorial.
Untuk itu peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran ATI pada program remedial sehingga setiap siswa mendapatkan bimbingan dan perhatian sesuai dengan kebutuhannya. Secara garis besar dapat diperhatikan pada format berikut:

MODEL PENDEKATAN
APTITUDE –TREATMENT INTERACTION (ATI)
Desain
Mata Pelajaran                                  :
Pokok Bahasan                                 :
Waktu                                               :
Tujuan Pembelajaran Khusus          :
Sumber dan Media                           :
Evaluasi                                           :   1.  Tertulis dalam bentuk:
                                                                  a) pilihan ganda, b) isian, c) essay
Kbm Kelompok Rendah
    1. Pretes
    2. Kegiatan inti: Reteaching dan tutor teman sebaya
    3. Latihan dan tugas
    4. Diskusi
    5. Postes
Kbm Kelompok Tinggi
  1. Pretes
  2. Re-teaching dan Tutorial
  3. Menggunakan alat/atau media pelajaran secara optimal
  4. Pemberian motivasi
Implementasi
  1. Melakukan pretes
  2. Pembelajaran konvensional dan tutor teman sebaya, alat/media (cocok), Tanya jawab, feed back dan latihan
  3. Menutup pelajaran
  4. Ikhtisar dan tindak lanjut
  5. Melakukan postes

Implementasi
  1. Melakukan Pretes
  2. Memberi Re-Teaching Dan Tutorial
  3. Memberdayakan alat/media pelajaran dengan optimal
  4. Memberi motivasi/dorongan
  5. Memberi tindak lanjut/tugas
  6. Melakukan postes
Evaluasi dan penilaian
1.Tertulis:
        a.    Pilihan Ganda
        b.    Isian
        c.     Essay
Evaluasi dan penilaian
1.Tertulis:
        a.    Pilihan Ganda
        b.    Isian
        c.     Essay

Entri Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

joint now

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme
Terima kasih atas kunjugan dari para pencari ilmu sekalian, semoga apa yang kami tulis dapat berguna bagi anda.http://mediaolinefisika.com, jangan lupa komentarnya.karya WINARNO,M.Pd.Si dalam inovasi media pembelajaran