NABI MUHAMMAD SAW PERTAMA MENGENAL GRAVITASI ( BUKTI AL-QUR’AN ITU WAHYU ALLAH SWT )
Penulis : Letmi Dwiridal
Staf Pengajar Jurusan Fisika FMIPA UNP
Edisi I : Fisika Dalam Al-Qur’an
Sebaik-baik diantara kamu adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an (Sabda Rasulullah, Riwayat Imam Muslim).
Dalam buku ini penulis mencoba mempelajari teori-teori fisika tentang
alam semesta selanjutnya menghubungkan dengan apa yang terdapat dalam
ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits. Sekarang ini telah banyak hasil temuan
ilmiah bidang fisika yang memperlihatkan bukti-bukti kebenaran
Al-Qur’an.
Semakin
banyak yang diketahui tentang teori ilmiah bidang fisika yang
ditemukan oleh ahli fisika dunia saat ini, insyaallah akan semakin
banyak pula ayat-ayat Al-Qur’an tentang alam semesta yang dapat dipahami
maksudnya. Ilmu fisika bukanlah untuk menseleksi ayat-ayat Al-Qur’an,
menilai mana ayat yang benar atau tidak. Fisika sebagai ilmu sains itu
kemampuannya terbatas. Semua ayat-ayat dalam Al-Qur’an itu adalah benar dan suatu yang Haq dari Allah Yang Maha Pencipta.
Sungguh suatu kemunafikan jika menyakini sebagian ayat dan mendustakan
sebagian ayat yang lainnya. Kalaupun ada ayat-ayat yang masih belum
mampu manusia memahaminya, hal itu bukanlah ayat tersebut yang keliru,
akan tetapi manusialah yang belum mampu mentelaahnya karena keterbatasan
kemampuan akal. Beberapa temuan ilmiah bidang fisika di abad modern
ini, pada dasarnya dalam Al-Qur’an sudah diberitakan sebelumnya, jauh
sebelum kesimpulan tersebut ditemukan para ahli fisika. Semua itu
merupakan bukti kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an (Q.S.Ali-Imran:7) telah dijelaskan tentang ayat-ayat Muhkamat dan ayat-ayat Mutasyabihat.
Ayat Muhkamat adalah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, serta
dapat dipahami dengan mudah. Ayat Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang
mengandung pengertian dan tidak dapat ditentukan artinya secara jelas
kecuali sesudah diselidiki secara mendalam. Pada ayat ini Allah SWT
mengigatkan bahwa ; adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada
kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk
menimbulkan fitnah, tetapi orang-orang yang beriman akan mengambil
pelajaran dari padanya dengan menggunakan akalnya. Insyaallah dengan memahami keteraturan alam semesta dengan fisika, kita dapat melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Dengan
karunia akal, manusia sangatlah dianjurkan untuk mempelajari alam
semesta. Perintah mempelajari alam semesta dan berzikir mengingat
kepada Allah SWT, dapat dilihat dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran.
Perintah tersebut dituliskan dengan nomor ayat yang berurutan. Dalam
surat tersebut dijelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk mempelajari langit dan bumi (Q.S.Ali-Imran:190), selanjutnya juga dianjurkan untuk selalu mengingat Allah SWT, baik sambil duduk, berdiri dan berbaring (Q.S.Ali-Imran:191).
Jadi zikir dalam arti yang lebih luas, disamping membaca bacaan tauhid,
juga mengetahui penciptaan alam semesta oleh Allah SWT. Dengan fisika,
manusia dapat mempelajari dimensi dan keteraturan alam yang telah
ditetapkan-Nya.
Fisika dinamakan ilmu “thobi’ah” (watak) yang mempelajari keteraturan alam. Fisika
dikembangkan berdasarkan fakta dan data empiris. Begitu banyaknya
pelajaran serta hikmah yang dapat diambil dari Al-Qur’an, khusus
tentang alam semesta dapat dipelajari dengan fisika. Yang perlu diingat
bahwa mengartikan dan mentafsirkan Al-Qur’an itu hanya milik Ulama-ulama
Islam. Sebagai orang saintis tentulah tidak memiliki hak untuk
mengartikan atau mentafsirkan Al-Qur’an. Memang fisika sebagai ilmu
sains tidak ada memiliki kemampuan tentang itu. Untuk itulah dalam
mempelajari ayat-ayat Al-Quran ini, kita berpedoman kepada terjemahan
dan tafsir Al-Qur’an oleh Ulama-ulama Islam.
Di
dalam Al-Qur’an cukup banyak dijelaskan tentang dimensi fisika (benda,
ruang, waktu dan dinamika alam ) bahkan ada yang dituliskan dengan nama
surat. Nama-nama surat dan nomor surat itu antara lain: Al-Syam (matahari) Q.S:91, Al-Layl (malam).Q.S:92, Al-Falaq (waktu subuh) Q.S:113, Al-Fajr (fajar) Q.S:89, Al-Isra (mempejalankan) Q.S:17, Al-Ma”rij (tempat-tempat naik) Q.S:70, Al-Dhuha (waktu pagi) Q.S:93, Al-Qamar (bulan) Q.S:54, Al-Qadr (Malam Qadr) Q.S:97, Al-Buruj (gugus bintang).Q.S:85, Al-Najm (bintang).Q.S:53, Al-Thariq (yang datang malam hari).Q.S:86, Al-Dhukhan (kabut).Q.S:44, Al-Waqiah (hari kiamat).Q.S:75, Al-Qoriah(hari kiamat).Q.S:101, Al-Takwir(menggulung).Q.S:81, An-Nur (cahaya).Q.S:24, Al-Rad (Guruh).Q.S:13, Al-Zalzalah (kegoncangan).Q.S:99, Al-Infithar(terbelah).Q.S:82, Al-Insyiqaq (terbelah).Q.S:84, , Al-Hijr (batu gunung).Q.S:15, Al-Kahfi (gua).Q.S:18.
Pembahasan
fisika tentang keteraturan alam semesta itu dapat diungkapkan melalui
hukum-hukum empiris fisika. Hukum empiris fisika itu berusaha mengungkap
fakta alam dengan menggambarkan keteraturan sistem yang telah
ditetapkan oleh Allah SWT. Makna zikir dalam membaca bacaan tauhid
(zikrullah) bagi seorang fisikawan seharusnya lebih mendalam artinya.
Hal ini disebabkan karena disamping mengetahui bacaan zikir, juga
mengetahui betapa Maha Kuasa dan Maha Agung Allah SWT dengan
keteraturan alam semesta yang diciptakanNya. Hal tersebut juga telah
diisyaratkan dalam Al-Qur’an (Q.S.Ali-Imran :190-191) agar manusia
menggunakan akal pemikirannya untuk mempelajari alam (langit dan bumi).
Adanya
suatu temuan ilmiah fisika yang disimpulkan, hal tersebut dapat
dipandang sebagai bukti-bukti kebesaran Allah SWT bagi manusia yang
beriman dan bertaqwa. Keberadaan Al-Qur’an itu sebagai kitab suci yang
berisi wahyu-wahyu Allah SWT merupakan suatu rahmat yang amat istimewa
dan mulia. Islam mengajarkan keselamatan hidup manusia di dunia dan di
akhirat. Mempelajari alam semesta itu sebagai bagian dari usaha
untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT bagi orang-orang yang
berfikir. Hal tersebut sudah sering diberitahukan dalam Al-Qur’an
seperti : (Q.S.Ali-Imran:190), (Q.S.Al-Jasiyah:3,4,5,13,23),
(Q.S.Al-Qamar:40,51), (Q.S.Al-Baqarah:164), (Q.S.As-Sajdah:26,27),
(Q.S.Yasin:62,68), (Q.S.As-Saffat:138), (Q.S.Az-Zumar:21,27,42,52),
(Q.S.Sad:29), (Q.S.Fussilat:10), (Q.S.Al-Waqiah:62), (Q.S.Al-Hadid:17),
(Q.S.Al-Hasyr:21), (Q.S.Al-Mulk:3), (Q.S.Al-Haqqah:43,48),
(Q.S.Ar-Rad:2), (Q.S.A”raf:52,57,130), (Q.S.Al-Al-Hijr:16),
(Q.S.AL-Alaq:1), (Q.S.Al-Maidah:58), (Q.S.Al-An”am:97,98),
(Q.S.Al-Anfal:27), (Q.S.Yunus:3,5,6), (Q.S.Hud:51), (Q.S.Yusuf:3),
(Q.S.An-Nahl:11,12,13,69). Ayat-ayat diatas merupakan petunjuk bagi manusia untuk mempelajari alam beserta keteraturan yang berlaku padanya. Fisika salah satu instrumen untuk melihat bukti-bukti keteraturan tersebut. Berdasarkan ayat-ayat diatas, kita diajak untuk mengIslamkan sains dan bukan untuk mensainskan Islam.
Jadi filsafat ilmu pengetahuan dapat dijadikan pendukung untuk
mempelajari filsafat Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Hadits.
Fisika
memiliki peran yang cukup strategis dalam mempelajari makna ayat-ayat
mutasyabihat tentang alam semesta (syahadah/nyata) dalam Al-Qur’an.
Peran tersebut digunakan untuk memahami makna fisik yang lebih luas lagi
dari beberapa kata-kata pada terjemahan Al-Qur’an. Kata-kata tersebut
seperti siang, malam, pergerakan, kencangnya, garis edar, perjalanan
waktu, batas waktu, cahaya, bersinar, kilat, petir, angin, hujan,
terbang, beterbangan, yang berat, kegoncangan, bintang, gugus bintang,
dan sebagainya. Semua makna kata tersebut dapat dipelajari dengan fisika.
Pada
buku ini penulis mencoba mendeskripsikan tentang temuan ahli fisika
yang ada hubungannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Teori-teori dan
kesimpulan fisika tersebut dapat dijadikan pengetahuan bagi mahasiswa
dan masyarakat luas terutama ummat Islam. Pengetahuan fisika tentang
watak alam itu dapat dijadikan instrument untuk melihat kebesaran Allah
SWT pada penciptaan alam semesta, sebagaimana yang tersebut di dalam
Al-Qur’an. Pada bagian lain dapat dilihat bahwa fisika dengan metodologi
dan instrumennya dapat membuka rahasia alam yang selama ini tidak
diketahui. Semakin teliti dan semakin akurat instrument yang dipakai
oleh ahli fisika maka semakin jelas watak dan keteraturan alam semesta
tersebut bagi manusia. Jadi melalui Fisika, kita berusaha
untuk membaca watak dan rahasia keteraturan alam yang ada pada bumi,
bulan, planet-planet, matahari, bintang, gugus bintang, galaksi dan
sebagainya.
Oleh karena fisika itu termasuk ilmu thobi’ah
yang mengkaji tentang watak keteraturan alam semesta, maka pada fisika
itu dibutuhkan dimensi dan pengukuran. Ilmu Fisika pada dasarnya
berusaha untuk mengungkapkan sifat dan kelakuan alam di sekitar kita ini
pada kondisi-kondisi tertentu. Kondisi alam ini secara fisika dapat
dipandang sebagai dimensi ruang, waktu, materi dan energi. Fisika
merupakan ilmu alamiah dengan segala metode ilmiahnya berusaha
mengungkapkan, merumuskan, memperhitungkan, menyimpulkan segala dimensi
(ukuran/satuan) alam semesta. Sesungguhnya Allah SWT menciptakan
segala sesuatu dengan ukurannya. Menciptakan dan menyempurnakan
penciptaan-Nya, menentukan kadar (keteraturan) masing-masingnya.
Fisika sebagai salah satu ilmu sains mencoba mempelajari dan membaca
ukuran dan keteraturan yang telah ditentukan tersebut. Bahasa dalam
mengungkap ukuran dan keteraturan tersebut dalam fisika dinamakan rumus
empiris fisika.
Di
awal pembahasan ini tentang deskripsi fisika pada alam semesta akan
diuraian mekanika alam semesta tentang mekanisme awal mulanya terbentuk,
yang masih terjadi saat ini, bagaimana nanti berakhirnya (saat hari
kiamat). Dalam Al-Qur’an Allah SWT telah menjelaskan melalui firmanNya :
awal mulanya terbentuk (Q.S.Al-Anbiyaa: 30) dan yang masih terjadi saat ini (Q.S.Az-Zariyat:47), (Q.S.An-Naziat: 28) dan mekanisme yang terjadi saat-saat menjelang hari kiamat (Q.S.
Al-Qoriah:1-5), (Q.S.Al-Muzzammil:14), (Q.S.Az-Zalzalah:1-2),
(Q.S.Al-Insyiqaq:3-4), (Q.S.Al-Waqiah:4-6), (Q.S.Al-Hajj:1-7),
(Q.S.Al-Furqan:11), (Q.S.Al-Ahzab:33).
Penjelasan
Al-Qur’an tentang awal kejadian, proses yang terjadi saat ini, dan
mekanisne yang akan terjadi nantinya saat-saat akan kiamat, juga sama
dengan apa yang telah dijelaskan tentang awal kejadian manusia:
(Q.S.Al-Alaq:1-5), (Q.S.Al-Insan:1-4), (Q.S.Al-Qiyamah:36-40),
(Al-Mursalat:20-23), dan bagaimana keadaan menjelang akhir kehidupan
manusia saat sakratul maut: (Q.S.Al-Qiyamah:26-35). Akan tetapi ilmu
Pengetahuan sains tidak dapat menjelaskan kehidupan sesudah mati
(kehidupan di hari pembalasan) termasuk fisika dan ilmu pengetahuan
lainnya. Jangankan kehidupan sesudah mati sedangkan waktu kematian,
manusia tidak memiliki ilmu tentang itu. Hanya Allah swt yang mengetahui
dan memiliki haq tentang roh (nyawa) tersebut dan itulah sebagian hikmah diturunkan Al-Qur’an oleh Allah SWT kepada manusia sebagai petunjuk.
Dalam
sejarah perkembangan Fisika, tentang alam semesta : Newton (1642-1727)
menjelaskan konsep Gaya dalam Hukum Gravitasi dan Gerak. Albert Einstein
(1879-1955) dengan teori Relativitasnya dan teori pergeseran merah
gravitasi kemudian Stephen William Hawking, (1942-2011), beliau dikenal
sebagai ahli fisika terutama sekali karena teori-teorinya mengenai
teori kosmologi dan konsep gravitasi alam semesta, keruntuhan gravitasi.
Keteraturan alam semesta akan berakhir ditandai dengan hilangnya
gravitasi.
Apabila disimak sejarah Newton, dia seorang dosen perguruan tinggi di
Cambridge University London Inggris. Bagi seorang dosen sudah jelas bagi
kita, bahwa mereka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan seperti ilmu
Fisika adalah melalui penelitian, rujukan teori, sumber buku dan sumber bacaan yang sudah ada sebelumnya.
Disamping belajar melalui eksperimen dengan metode ilmiahnya Newton
juga menggunakan buku rujukan serta sumber bacaan lainnya yang
berhubungan dengan pokok permasalahan yang dikembangkan yaitu gravitasi.
Sumber bacaan dan ilmu dari siapakah, Newton mengembangkan teori
gravitasi.?. Apapun bacaan dan sumber ilmunya Newton, yang penting
bagi kita untuk dianalisa bahwa sebelum adanya Newton, Islam telah
berkembang sampai ke eropa. Walaupun Newton bukanlah seorang muslim, akan tetapi bukanlah mustahil Newton juga mempelajari sumber ilmu dari ilmuwan Muslim seperti Al-Biruni dan Al-Kazini.
Siapakah Al-Biruni dan Al-Kazini itu..?, dibuku ini juga akan penulis
uraikan secara singkat tentang kedua ilmuwan muslim tersebut.
Cerita rekayasa tentang apel jatuh hampir semua dari kita pernah
mendengarnya, bahkan sampai sekarang umumnya masyarakat fisika masih
menyakini hal tersebut. Cerita gravitasi tersebut tentu turut menyumbang
dugaan bahwa penemuan hukum gravitasi seolah-olah adalah Newton.
Seakan-akan sesaat sebelum apel tersebut jatuh, fenomena dan analisa
gravitasi belum ada. Jika dianalisa kembali ternyata cerita apel jatuh tersebut adalah cerita fiktif yang direkayasa oleh Voltaire pada abad ke 18 (artinya selisih waktunya lebih 1000 tahun setelah turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah Muhammad SAW)
Newton tidak penemu dan menemukan teori gravitasi. Teori dan konsep gravitasi telah dijelaskan sebelumnya oleh ilmuwan muslim Al-Biruni dan juga oleh ilmuwan muslim Al-Kazimi.
Jadi teori dan hukum gravitasi oleh Newton yang dikenal dunia ilmu
pengetahuan sekarang, bersumber pada ide dan gagasan ilmuwan muslim
sebelumnya yaitu Al-Kazimi dan Al-Biruni. Ilmuwan muslim tersebut
belajar gravitasi, terinspirasi oleh ayat-ayat Al-Qur’an (wahyu Allah
SWT yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW). Al-Kazini dan Al-Biruni disamping belajar ilmu sains juga belajar Al-Qur’an.
Sungguh Al-Qur’an itu merupakan petunjuk bagi manusia untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan serta pedoman hidup di dunia maupun di
akhirat.
Perlu diingat bahwa populeritas Newton tentang gravitasi tersebut juga
tak lepas dari peran sistem media dan jurnalis ilmu pengetahuan yang
didominasi oleh barat (non Muslim). Disamping hal tersebut juga
kesepakatan ilmuwan Fisika saat itu yang umumnya dan semuanya bukan
Islam, memberikan kesetaraan gaya kepadanya satuan gaya dengan Newton
(N) atau setara dengan Kg m/s2. Jadi putuslah dan hilanglah
sumbangan pemikiran dan ilmu yang telah diberikan oleh ilmuwan-ilmuwan
muslim yang ada sebelumnya kepada dunia ilmu pengetahuan ( Barat
menjadi bloker ilmu pengetahuan dan terjadilah penistaan ilmu serta
pemikiran cemerlang dari ilmuwan muslim oleh mereka kaum Musyrik)
Ide dan gagasan ilmuwan muslim tentang gravitasi seolah-olah terhapus
oleh dominasi barat dalam dokrin ilmu pengetahuan.
Dokrin barat tersebutlah sampai sekarang menjadi persepsi dunia
pendidikan dan ilmu pengetahuan. Salah satu bukti nyatanya adalah cerita fiktif serta rekayasa tentang cerita apel jatuh yang dikarang oleh Voltaire masih banyak tampil pada buku-buku pelajaran sekolah. Inilah yang perlu kita koreksi dan kita perbaiki.
Yang
sangat penting untuk direnungkan bahwa kita mempelajari fisika jangan
hanya terbatas pada analisa fakta fisiknya saja, akan tetapi perlu
dipahami juga apa hikmah dibalik fakta itu semua. Al-Qur’an
adalah firman Allah SWT yang di dalamnya terkandung banyak sekali sisi
keajaiban yang membuktikan fa
Beberapa
fakta ilmiah yang diungkapkan oleh beberapa ahli fisika tentang alam
semesta dan isinya yang terungkap dan ternyata sudah disampaikan dalam
Al-Qur’an jauh sebelum manusia menyimpulkannya. Berdasarkan teori
gravitasi tentang alam semesta oleh Stephen
Hawking (2011) dengan teori black hole yang menjelaskan kesimpulan
bahwa keteraturan alam semesta ini berhubungan dengan gravitasi.
Manusia
dapat duduk, berdiri, berjalan karena ada gaya gravitasi. Mobil diam
dan melaju tetapi masih diatas jalan karena gaya gravitasi. Rumah,
gedung tetap berdiri karena gaya gravitasi. Kapal berlayar dilautan
karena gaya gravitasi. Gunung-gunung menancap di kulit bumi karena gaya
gravitasi, bahkan magma gunungapi masih di dalam perut bumi karena gaya
gravitasi dan sebagian ada yang keluar karena adanya tekanan yang
melawan gaya gravitasi dalam bumi. Jika gravitasi hilang maka dipahami
bahwa semua keadaan diatas tidak akan terjadi lagi, dan terjadilah
manusia, kendaraan, rumah, gunung akan lepas dari bumi dan
berterbangan.
Dalam ayat Al-Qur’an (Q.S.Al-Qoriah:1-5) di jelaskan bahwa pada hari Kiamat itu manusia dan Gunung berterbangan, dan ini berarti bahwa saat kiamat itu gravitasi pada alam semesta hilang.
Pada hal jika kita analisa bahwa konsep terbang, berhamburan, bumi
mengeluarkan isinya yang berat, pada saat Al-Qur’an diturunkan, tentulah
tidak sesuai dengan rasional kehancuran saat itu. Logika kehancuran
atau kiamat mungkin dianalogikan oleh manusia saat itu dengan
semisalnya; banjir besar manusia tengelam pada kaum Nabi Nuh
(Q.S.Al-Qamar:9-17), Angin kencang dan topan pada kaum Ad
(Q.S.Asy-Syu”ara:123-140 dan Al-Haqqah:1-7), Gempa bumi dan hujan batu
pada kaum Nabi Luth,Q.S.Al-A”raaf:80-84), Gempa bumi dasyat dan
halilintar pada kaum Tsamud (Q.S. Asy-Syu”ara:155-159 dan
Al-Haqqah:1-7).
Rasional
manusia tentang kehancuran ; banjir, hujan batu dan gempa dasyat
dimana bangunan runtuh kebawah, pohon tumbang, tanah rengkah seperti
rasional gempa saat ini. Tetapi berita kehancuran (kiamat) di jelaskan
oleh Nabi Muhammad saw dalam Al-Qur’an, diluar rasional dan diluar
logika manusia saat itu. Berita kiamat tersebut adalah manusia seperti
anai-anai terbang, gunung-gunung seperti kapas berterbangan, Bumi mengeluarkan isinya yang berat
dan menjadi kosong. Semua peristiwa tersebut dalam fisika ada kaitannya
dengan Gravitasi. Allah SWT menjelaskan dalam firmanNya keadaan
manusia, gunung-gunung ketika hari kiamat. Hal tesebutlah sesuai dengan
yang diungkapkan oleh pakar fisika saat ini, dimana gambaran disaat hari
kiamat itu gravitasi hilang. Tetapi yang perlu diingat bahwa manusia
tidak memiliki ilmu tentang kapan terjadinya hari kiamat..!!!. yang
jelas pasti terjadi. Allah swt telah memastikan terjadinya kiamat itu di dalam Al-Qur’an “Sesungguhnya
hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentang kiamat itu,
akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”( Q.S.Al-Mu’min:59).
Adanya sebagian manusia yang mengatakan bahwa kiamat itu terjadi pada hari dan tanggal ini dan itu, hal tersebut merupakan tanda-tanda pada diri mereka itu kekafiran. Kita sebagai muslim tidak perlu terpengaruh, karena yang demikian itu merupakan ujian keimanan bagi kita, yang pasti hanya Allah swt yang Maha Mengetahui kapan terjadinya.
Jadi
jelaslah bahwa peristiwa kiamat itu bukanlah akal-akalan dari nabi
Muhammad SAW, tetapi merupakan bukti nyata bagi manusia bahwa Al-Qur’an
itu adalah benar wahyu dari Allah Yang maha Pencipta. Semakin
dipelajari alam semesta ini dengan ilmu pengetahuan, maka akan semakin
jelas oleh manusia bahwa Al-Qur’an itu sungguh benar. Al-Qur’an itu
akan nyata sekali merupakan wahyu Allah Yang Maha Pencipta. Al-Qur’an
itu sungguh kitab suci yang memiliki mukjizat serta keistimewaan yang
sangat luar biasa dan diturunkan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad
SAW.
Sedangkan
untuk rasional berfikir manusia tentang gravitasi yang menggambarkan
manusia dan gunung-gunung berterbangan itu baru didapatkan kesimpulan
setelah manusia belajar gravitasi selama lebih kurang sekitar 300 tahun
lamanya. Selama waktu tersebut dimulai dari perumusan konsep gravitasi
umum oleh Newton sekitar tahun 1687 melalui bukunya Principia dan konsep pergeseran merah gravitasi (kelengkungan ruang dan waktu) oleh Albert Einstein tahun 1905 serta konsep keruntuhan gravitasi dan black hole (Dark energy) oleh Stephen hawking melalui bukunya Grand of Design, penerima Nobel fisika tahun 2011. Sehingga amat jelas bagi kita bahwa gambaran mekanisme hari kiamat itu, sangatlah analog dengan apa yang telah disimpulkannya : “bahwa keteraturan alam semesta ini akan berakhir ditandai dengan hilangnya gravitasi.”
fakta-fakta yang ada di alam semesta. Fakta
bahwa sejumlah kebenaran ilmiah yang hanya mampu kita ungkap dengan
teknologi abad sekarang ternyata telah dinyatakan Al-Qur’an hampir
sekitar 1500 tahun lalu. Al-Qur’an itu tidak ada keraguan lagi
padanya dan merupakan petunjuk bagi orang yang bertagwa sekaligus sumber
ilmu pengetahuan bagi manusia.
Jadi
Nabi Muhammad SAW merupakan orang yang pertama memperkenalkan fenomena
gravitasi itu kepada manusia melalui Wahyu Allah dalam Al-Qur’an.
Allah SWT telah memberitahukan manusia tentang gravitasi dengan
mekanisme saat kiamat adalah dengan gambaran bahwa manusia dan
gunung-gunung berterbangan .
Kebanyakan
kita mempelajari alam semesta, tidak menyebut dan beritikad dengan nama
Allah SWT yaitu tuhan yang menciptakan. Manusia lebih banyak
mengagungkan dirinya melalui pemikiran manusia itu sendiri dari pada
pengakuan akan keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Liberalisasi diri pada
manusia ini dapat memunculkan kesombongan dan keangkuhan manusia
terhadap yang Maha Pencipta. Sadar atau tidak, manusia itu adalah makluk
Allah SWT. Manusia menjalani kehidupan sebagai khalifah di bumi akan
mendapatkan petunjuk dari Allah SWT melalui Al-Qur’an
(Q.S.Al-Baqarah:30).
Sudah
ratusan tahun manusia mengembangkan ilmu pengetahuan tentang gravitasi
dan telah ribuan tahun pula, Allah SWT mewahyukan isyarat gravitasi itu
melalui Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur’an dan kenapa kita selama ini
belum mengambil hikmah dari hal tersebut..?. Hal ini kemungkinan sekali
karena kita belajar fisika itu terpisah dengan Islam dan Al-Qur’an.
Terkadang kita sebagai manusia sudah begitu sombong dengan ilmu
pengetahuan sehingga mengesampingkan Allah SWT sebagai yang Maha
Pencipta.
Beliau Rasulullah Muhammad SAW melalui wahyu Allah SWT, telah
menjelaskan analisa dari gravitasi dalam Al-Qur’an yaitu : manusia seperti anai-anai terbang, gunung-gunung seperti kapas beterbangan (Q.S. Al-Qoriah:1-5), gunung-gunung itu seperti pasir bertaburan (Q.S.Al-Muzzammil:14), bumi mengeluarkan beban-bebanya yang berat (yang dikandungnya) (Q.S.Az-Zalzalah:1-2), bumi memuntahkan (mengeluarkan) apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong. (Q.S.Al-Insyiqaq:3-4), gunung dihancurkan, maka jadilah ia seperti debu yang berterbangan. (Q.S.Al-Waqiah:4-6).
Nabi Muhammad SAW menerima wahyu Allah SWT dalam Al-Qur’an, dengan beberapa ayat di dalamnya ; (Q.S. Al-Qoriah:1-5), (Q.S.Al-Muzzammil:14), (Q.S.Az-Zalzalah:1-2), (Q.S.Al-Insyiqaq:3-4), (Q.S.Al-Waqiah:4-6) yang
mengandung makna gravitasi. Sehingga Al-Qur’an sebagai wahyu Allah SWT
dan kitab suci agama Islam, dijadikan sumber dan dasar dalam mempelajari
ilmu pengetahuan oleh ilmuwan muslim, karena memang salah satu hikmah
dari Al-Qur’an itu adalah sumber ilmu bagi manusia.
Perluasan dan kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke 7 M sampai abad ke
12 M, banyak Ilmuwan muslim mengembangkan ilmu pengetahuan dengan
pengamatan alam berdasarkan inspirasi dari ayat-ayat Al-Qur’an. Islam
sangat mendorong dan menyuruh umatnya untuk mempelajari ilmu alam
(sains) termasuk ilmu Fisika. Oleh karena dalam melaksanakan ibadah,
umat Islam perlu dengan ilmu seperti ; ilmu menentukan waktu sholat,
ilmu menentukan arah kiblat, ilmu menentukan awal puasa, hari raya, ilmu
menentukan waktu wukuf di arafah, ilmu tentang pergantian bulan, tahun
dan sebagainya.
Dengan kesholehan dan kejeniusan ilmuwan-ilmuwan muslim saat itu,
khususnya ilmuwan yang mempelajari tentang pembahasan gravitasi seperti;
Al-kindi (801 M – 873 M), maka beliau menuliskan banyak karya dalam bidang goemetri , astronomi (fenomena gravitasi),
aritmatika, (yang dibangunnya dari berbagai prinsip aritmatis) dan
fisika. Al-Kindi dikenal sebagai penggagas sistem fenomena gravitasi dan
teori relativitas.
Selanjutnya ilmuwan muslim Al -Biruni (973 M – 1048 M) , dengan kesholehan dan kecerdasan Al-Biruni merangsang dirinya mendalami sekitar ilmu astronomi. Al-Biruni dikenal sebagai penemu konsep gaya gravitasi,
ia misalnya memberikan perhatian yang besar terhadap kemungkinan gerak
bumi mengitari matahari (heliosentris). Namun ia berpendapat, seperti
pernah ia sampaikan dalam suratnya kepada Ibnu Sina, bahwa gerak eliptis lebih mungkin daripada gerak melingkar pada planet.
Al-Biruni konsisten mempertahankan pendapatnya tersebut, dan ternyata
di kemudian hari terbukti kebenarannya menurut ilmu astronomi modern.
Setelah digagasnya konsep gaya gravitasi oleh Al-Biruni maka konsep tersebut dikembangkan dan dilanjutkan lagi oleh AL-Khazini (1045 M – 1130 M). Al-Kazini adalah fisikawan muslim terbesar sepanjang sejarah.’’
Begitulah pengakuan Charles C Jilispe, editor Dictionary of Scientific
Bibliography menjuluki saintis Muslim, Al-Khazini. Para sejarawan sains
menempatkan saintis kelahiran Bizantium itu dalam posisi yang sangat
terhormat. Ilmuwan Muslim yang berjaya di abad ke-12 M tepatnya
(1115-1130 M) itu telah memberi kontribusi yang sangat besar bagi
perkembangan sains modern, terutama dalam fisika dan astronomi.
Al-Khazini merupakan saintis Muslim yang banyak menguasai astronomi,
fisika, kimia, matematika, serta filsafat. Al-Khazini merupakan ilmuwan
yang mencetuskan teori penting dalam sains. Teori penting tersebut
seperti metode ilmiah eksperimental dalam ilmu mekanika; energi potensial gravitasi, perbedaan daya, masa dan berat.
Perlu diingat bahwa hampir 900 tahun jaraknya antara gagasan konsep gaya gravitasi dan hukum gerak oleh Al-kindi (801 M – 873 M), Al -Biruni (973 M – 1048 M) dan AL-Khazini (1045 M – 1130 M)….dengan Newton.
Newton (1642-1727) melanjutkan untuk menjelaskan konsep Gaya dalam
Hukum Gravitasi dan Gerak. Hanya saja pada Newton penjelasan konsep gaya
gravitasi tersebut dalam buku principia (1687), selanjutnya
dipromosikan oleh bantuan jurnalistik dan media Barat/Eropa. Barat
sebagai bloker ilmu pengetahuan mengesampingkan karya ilmuwan-ilmuwan
Muslim saat itu. Itulah gambaran rekayasa ilmiah dalam sejarah
perkembangan ilmu pengetahuan oleh Barat.
Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu Allah SWT tentang fenomena
gravitasi saat terjadinya hari kiamat. Semua penjelasan gravitasi
tersebut di atas diterima oleh Nabi Muhammad SAW di waktu Al-Qur’an
diturunkan oleh Allah SWT. Waktu turunnya Al-Qur’an tersebut sampai
waktu Newton menjelaskan kembali konsep dan hukum gravitasi itu dalam
buku principia adalah sangat jauh sekali beda waktunya (dari abad 6 M sampai abad ke 17 M). Selisih waktu dari Al-Qur’an turun sampai kepada zaman Newton adalah lebih dari seribu tahun lamanya (lebih 1000 tahun).
Apabila kita simak dengan mendalam masalah diatas berdasarkan
teori berpikir manusia menurut taksonomi bloom ; Ingatan, Pemahaman ,
Aplikasi , Analisa, Sintesa, Evaluasi, dapat kita pahami bahwa
Rasulullah Muhammad SAW menyampaikan wahyu Allah SWT tentang peristiwa
kiamat tersebut jika kita lihat oleh pemikiran kita manusia, sudah pada tingkat berfikir tertinggi (analisa…evaluasi).
Tingkat evaluasi maksudnya karena pada ayat-ayat Al-Qur’an tersebut
sudah menjelaskan “ jika gravitasi sudah tidak ada maka manusia dan
gunung berterbangan, bumi mengeluarkan isinya yang berat, dan itulah
gambaran hari akhir atau kiamat. Sedangkan apabila ditelusuri
sejarahnya Rasulullah Muhammad SAW itu bukanlah pemikir sains apalagi
seorang ilmuwan dan itulah bukti bahwa Al-Qur’an itu benar,
…..Sungguh..sungguh Maha Benar Allah SWT dengan segala wahyu-Nya dalam
Al-Qur’an.
Berdasarkan
perkembangan teori gravitasi tersebut maka yang sangat penting kita
pahami bahwa mempelajari fisika tidaklah terbatas pada analisa fakta
fisiknya saja, akan tetapi perlu dikembangkan juga apa hikmah dibalik
fakta itu semua atau makna spiritual (religious) dibalik fakta. Al-Qur’an
adalah firman Allah SWT yang di dalamnya terkandung banyak sekali sisi
keajaiban yang membuktikan fakta-fakta yang ada di alam semesta. Fakta
bahwa sejumlah kebenaran ilmiah yang hanya mampu kita ungkap dengan
teknologi abad sekarang ternyata telah dinyatakan Al-Qur’an hampir
sekitar 1500 tahun lalu. Al-Qur’an itu tidak ada keraguan lagi padanya
dan merupakan petunjuk bagi orang yang bertagwa sekaligus sumber ilmu
pengetahuan bagi manusia.
Apabila
kita membaca Al-Qur’an, Allah SWT telah menjelaskan tentang datangnya
kiamat, hari kebangkitan dan hukuman kepada siapa yang mendustainya.
Sungguh hari kiamat itu pasti datang,
tidak ada keraguan padanya dan sungguh Allah akan membangkitkan
siapapun yang di dalam kubur (Q.S.Al-Hajj:7). Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentang kiamat itu, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman ( Q.S.Al-Mu’min:59).Manusia telah diajak untuk bertaqwa kepada Allah, dan sungguh guncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (Q.S.Al-Hajj:1). Allah swt menyediakan neraka (api yang sangat besar) yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat (Q.S.Al-Furqan:11).
Islam
adalah agama yang diwahyukan Allah SWT, dengan ajaran yang disampaikan
oleh Nabi Muhammad SAW yang tercantum dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Keberadaan Islam akan lebih terasa dan kebesaran Allah SWT akan semakin
tampak nyata, apabila keIslaman dan keImanan itu didasari dengan ilmu.
ilmu pengetahuan manusia itu terbatas, terbatas pada alam nyata/syahadah
apalagi ilmu sains hanya mengandalkan metode ilmiahnya. Ilmu manusia
tidak mampu menguasai tentang alam gaib (gaib tentang waktu, gaib
tentang kematian, gaib tentang hari akhirat, gaib tentang surga dan
neraka dan sebagainya), untuk itulah manusia memerlukan keyakinan yang
didasari dengan petunjuk Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia telah menjelaskan tentang perkara yang nyata di dunia maupun
tentang perkara yang gaib di akhirat.
Untuk
memahami tentang alam akhirat, seorang saintis dan teknokrat perlu
belajar kepada para Ulama Islam yang telah terbukti kesholehannya. Ulama yang memiliki ilmu ibadah, ilmu tauhid, ilmu fiqih berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Begitu juga para Ulama dapat berdiskusi dengan saintis dan teknokrat
jika ingin mengetahui lebih tentang ilmu alam seperti ; massa, materi,
suhu, cahaya, listrik, magnet, gerak, jarak, kecepatan, getaran,
gelombang, energi, ruang dan sebagainya. Memang manusia itu tidak ada
yang sempurna dan menguasai semua ilmu. Manusia itu diciptakan Allah SWT
pada kesempurnaan pembentukannya dibandingkan dengan makluk lainnya.
Manusia tidaklah memiliki kesempurnaan dalam ilmunya jika dibandingkan
dengan ilmu Allah SWT. Tidaklah diberikan oleh Allah SWT ilmu kepada manusia kecuali sedikit sekali.
Sains
dan ilmu pengetahuan adalah merupakan salah satu isi pokok kandungan
kitab suci Al-Qur’an. Bahkan kata ‘ilm itu sendiri disebut dalam
Al-Qur’an cukup banyak. Allah swt telah meletakkan garis-garis besar
sains dan ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an, manusia hanya tinggal
menggali, mengembangkan konsep dan teori yang sudah ada. Untuk memahami
ayat-ayat Al-Qur’an khususnya ayat tentang alam semesta, manusia perlu
mengembangkan ilmu fisika dan ilmu lainnya Seperti; astronomi,
matematika, kimia, biologi, kedokteran, pertanian, dan teknologi
lainnya. Dengan sains dan teknologi manusia dapat memperbaiki
peradabannya. Oleh karena ilmu sains dan teknologi tersebut berkonsepsi
ilmiah/nyata, sehingga semua ilmu sains dan teknologi tidak dapat
digunakan manusia untuk mengkaji alam akhirat dan hikmah itulah Allah
SWT menurunkan Al-Qur’an kepada manusia untuk menjadi petunjuk.
Pada
saat ini yang merisaukan kita selaku muslim adalah masih banyaknya para
saintis yang memiliki persepsi bahwa berbicara tentang Islam,
seolah-olah menjadi penghambat perkembangan ilmu Pengetahuan. Bukankah
perkembangan ilmu pengetahuan itu dari sejarahnya juga didorong oleh
saintis Islam.? Seperti; Ali Algoritmi dan Aljabar ahli matematik, Al
kindi ahli astronomi, Ibnu sina ahli kedokteran dan yang lainnya.
Fakta
yang pernah penulis alami seperti; berdasarkan kepada Al-Qur’an, bahwa
alam semesta itu tidaklah kekal. Penulis mengemukakan bahwa dalam fisika itu tidak ada hukum kekekalan, dan yang ada itu adalah hukum konservasi. Konservasi diartikan awet bukan kekal. Hal
tersebut juga dapat ditinjau dari segi etimologi bahasa, matematika,
maupun secara fisika. Pada saat itu cukup banyak yang membantah dan
menentang, Penulis berusaha menyakinkan dengan mengemukakan bahwa
ditinjau dari aspek etimologi bahasa berasal dari conservation of energy dan bukan eternal of energy,
dari aspek matematika dirumuskan berdasarkan gaya konservatif dan bukan
gaya kekal, maupun dari aspek empiris fisik benda harus terisolasi
dari pengaruh gaya luar sedangkan isolasi gaya luar sangat sulit
dilakukan apalagi analisanya menggunakan asumsi dan pengabaian fenomena
mikro yang terjadi.
Dalam
Al-Qur’an tidak ada ayat yang menyatakan bahwa di alam semesta ini
berserta isinya adalah kekal, tetapi justru sebaliknya fana (tidak
kekal); (Q.S.Al-Anbiyaa:8,34,35, Q.S.Al-A’raf:185, Q.S. At-Taubah:38,
Q.S.Al-Isra:76, Q.S.Al-Kahfi:59, Q.S.Al-Mukminun:15,114). Mulanya banyak
yang belum menerima dengan alasan bahwa fisika itu ilmu pengetahuan,
sedangkan Al-Qur’an itu urusan agama. Yang menjadi permasalahan bagi
kita kenapa selama ini fisika belum digunakan untuk memahami ayat
tentang alam semesta dalam Al-Qur’an?. Ilmu fisika itu untuk
kesejahteraan hidup manusia di dunia dan Al-Qur’an merupakan petunjuk
hidup sejahtera di dunia sekaligus juga di akhirat
Banyak
hal yang perlu kita pelajari dan mengambil hikmah dengan fisika. Dalam
kajian fisika dipelajari ilmu tentang alam semesta yang lebih dikenal
dengan astrofisika. Berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang
penulis dapatkan di Pasca Sarjana Ilmu Fisika Universitas Gadjah Mada
(UGM) Jokyakarta tahun 1998, di departemen Astrofisika Boscha Institut
Teknologi Bandung (ITB) tahun 2003, di departemen Astrofisika Penang
Universitas Sains Malaysia (USM) tahun 2011 dan pengalaman
sebagai pembina Olimpiade Sains Nasional bidang Fisika/astronomi,
dicermati cukup banyak kajian ilmu fisika yang berhubungan dengan
ayat-ayat Al-Qur’an.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah menjelaskan tentang mekanisme kejadian
alam semesta, proses yang terjadi saat ini dan mekanisme tentang
berakhirnya alam semesta itu. Hasil penelitian para ahli fisika dunia
saat ini seperti ; teori Big Bang, teori hubble dan Doppler, teori
Stephen hawking, dan sebagainya. Semua teori tersebut sebenarnya sudah
diberitahukan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Jadi apabila kita mempelajari fisika juga mempelajari dan memahami Al-Qur’an banyak hikmah-hikmah yang kita dapatkan.
Dengan
adanya penelitian dan pengamatan melalui observatorium serta satelit
ruang angkasa Tahun (1927-2005) diperoleh kesimpulan “Teori Big-Bang”
(Teori Dentuman super Dahsyat) bahwa Alam semesta itu bermula dari satu
bintang. Tahun 2005 Paul Davies ; meluncurkan satelit astronomi ke
ruang angkasa dengan dibekali alat Cosmic Background Emission Explorer dan sampai
dengan sekarang, prinsip kosmologis telah berhasil dikonfirmasikan
melalui pengamatan pada radiasi latar mikrogelombang kosmis, sisa
ledakan. Konsepsi
inilah yang paling diterima oleh ahli kosmologi yang menggambarkan
bahwa alam semesta terbentuk melalui mekanisme ledakan. Teori ilmiah
inilah yang telah terbukti dengan teknologi modern dan yang paling
diterima para ahli fisika dunia di abad modern. Sedangkan dalam
Al-Qur’an telah diberitakan sekitar hampir 1.500 tahun yang lalu dalam (QS.Al-Anbiyaa: 30).
Tahun
1989 George Smoot dan Tahun 2005 Paul Davies ; meluncurkan satelit
astronomi ke ruang angkasa dengan dibekali alat COBE, dengan hasil yang
secara jelas menunjukkan keberadaan kerapatan dan panas sisa ledakan
yang ada pada alam semesta.Prinsip kosmologis telah berhasil dikonfirmasikan melalui pengamatan pada radiasi latar mikrogelombang kosmis, sisa ledakan. Konsepsi
inilah yang paling diterima oleh ahli kosmologi yang menggambarkan
bahwa alam semesta terbentuk melalui mekanisme ledakan.
Dengan fisika kita mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Allah SWT sebagai pencipta memisahkan antara keduanya, melalui mekanisme ledakan. Al-Qur’an memberitakan jauh sebelum manusia meneliti secara ilmiah dan menyimpulkannya. Hal ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an itu benar. Sungguh..sungguh mahabenar Allah SWT dengan firman-Nya.
Al-Qur’an juga menjelaskan tentang pergerakan bintang-bintang atau gerak menjauh dari benda-benda alam semesta. Penemuan
pergerakan menjauh dari bintang –bintang pertama kali ditemukan oleh
fisikawan Doppler tahun 1842 dengan direkamnya pergeseran spectrum
bintang kearah merah atau spectrum panjang gelombang panjang.
Setelah
Edwin Hubble pada tahun 1929 menemukan bahwa jarak bumi dengan galaksi
yang sangat jauh umumnya berbanding lurus dengan geseran merahnya.
Sebagaimana yang disugesti oleh Lemaître, pengamatan ini dianggap
mengindikasikan bahwa semua galaksi dan gugus bintang yang sangat jauh
memiliki kecepatan tampak yang secara langsung menjauhi titik pandang
kita, semakin cepat pergerakan kearah panjang gelombang panjang maka
gerakan untuk menjauhnya atau gerakan mengembangnya alam semesta itu
semakin cepat pula.
Pada
awal abad ke-20, fisikawan Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi
George Lemaitre, secara teoritis menemukan bahwa alam semesta senantiasa
bergerak dan mengembang. Fakta ini dibuktikan dengan teleskop Edwin
Hubble. Hasil pengamatan menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi
terus bergerak saling menjauhi. Bintang-bintang terus bergerak menjauhi
satu sama lain dan ini berarti alam semesta tersebut
“mengembang”. Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya
memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini
diterangkan dalam Al Qur’an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini
dikarenakan Al Qur’an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur
keseluruhan alam semesta. Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam
semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan yang
tinggi. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta
dengan permukaan balon yang sedang ditiup.
Bintang-bintang dilangit, mengalami gerak menjauh (kecepatan radial) dan gerak sejati (proper motions),
dalam detik busur pertahun. Bintang mengalami gerak ruang yaitu gerak
dengan kecepatan radial dan kecepatan tangensial. Akibat bintang
bergerak ini maka koordinat bintang perlu dikoreksi (30-100) tahun
sekali.
Kesimpulan
fisika yang diperoleh bahwa bintang bergerak menjauh atau alam semesta
mengembang/meluas, hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.
Dan langit itu Kami (Allah) bangun dengan kekuasaan Kami dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya (Q.S.Az-Zariyat:47). Al-Qur’an
telah memberitakan pengembangan atau meluasnya alam semesta ini sekitar
hampir 1500 tahun yang lalu, jauh sebelum para ilmuwan menemukannya.
Sungguh…Mahabenar Allah SWT dengan segala firman-Nya.
Masih
banyak isyarat dan hikmah dalam Al-Qur’an yang berhubungan dengan
Fisika. Pembahasan lebih lanjut tentang fisika dalam Al-Qur’an, dapat
dilihat pada penjelasan ayat-ayat berikut; dituliskan dalam bentuk (Al-Quran.Surat. nomor surat ; nomor ayat),
Fisika
alam semesta : (Q.S.2;22), (Q.S.3;190,191), (Q.S.39;5,9), (Q.S.10;101),
(Q.S.12;105), (Q.S.13;2), (Q.S.21;30,33), (Q.S.31;20), (Q.S.35;28,35),
(Q.S.37;6), (Q.S.45;13), (Q.S.50;6-11), (Q.S.51;47), (Q.S.73;14),
(Q.S.79;28), (Q.S. 81;1-29), (Q.S.82;1-19), (Q.S.84;1-25),
(Q.S.88;1-26), (Q.S.99;1-8), (Q.S.101;1-11)
Fisika
antariksa, Bintang: (Q.S.2;29,189), (Q.S.3;190,191), (Q.S.5;75),
(Q.S.6;97), (Q.S.10;5,101), (Q.S.15;16,17,18), (Q.S.39;6), (Q.S.17;12),
(Q.S.20;114), (Q.S.21;30,33), (Q.S.52;35,36), (Q.S.79;27,28),
(Q.S.23;14,17), (Q.S.26;210-212), (Q.S.76;2), (Q.S.27;64), (Q.S.30;50),
(Q.S.36;37-40), (Q.S.37;6-10), (Q.S.44;7), (Q.S.53;46), (Q.S.67;3-5),
(Q.S.72;8,9), (Q.S.75;37), (Q.S.77;20), (Q.S.85;1-3,9), (Q.S.86;1-3,11),
(Q.S.87;1-2), (Q.S.96;1-5)
Fisika
fluida, kelautan : (Q.S.2;50,164), (Q.S.5;96), (Q.S.6;59,63,97),
(Q.S.7;138,163), (Q.S.10;22,90), (Q.S.14;32), (Q.S.16;14),
(Q.S.17;66,67,70), (Q.S.18;61-63,79109), (Q.S.20;77), (Q.S.22;65),
(Q.S.24;40), (Q.S.26;63), (Q.S.25;53), (Q.S.27;61-63), (Q.S.30;41)
(Q.S.31;27,31), (Q.S.35;12), (Q.S.42;32-34), (Q.S.43;12,13),
(Q.S.44;24), (Q.S.45;12), (Q.S.52;6), (Q.S.55;19,20,24), (Q.S.81;6),
(Q.S.82;3)
Fisika
waktu, cahaya, Siang & malam : (Q.S.2;28,185,189,194), (Q.S.3;27),
(Q.S.4;40), (Q.S.5;2,97), (Q.S.6;96), (Q.S.7;143), (Q.S.9;26,36,38,51),
(Q.S.10;5,24,61), (Q.S.13;2), (Q.S.15;19), (Q.S.17;1), (Q.S.22;47),
(Q.S.25;62), (Q.S.27;88), (Q.S.28;71-72), (Q.S,37;5), (Q.S.32;5,11),
(Q.S.36;37,39,40), (Q.S.39;5), (Q.S.56;85), (Q.S.70;4,40), (Q.S.89;1-4),
(Q.S.91;1-4), (Q.S.92;1-2), (Q.S.93;1-2), (Q.S.99;7,8), (Q.S.100;1-4),
(Q.S.103;1-3)
Fisika
Atmosfere, angin, awan, hujan : (Q.S.2;164,266), (Q.S.3;117),
(Q.S.6;99), (Q.S.7;57), (Q.S.10;22), (Q.S.13;12,17), (Q.S,14;18),
(Q.S.15;22), (Q.S.16;10), (Q.S.17;68,69), (Q.S.18;45), (Q.S.21;81,104),
(Q.S.22;31), (Q.S.23;18), (Q.S.24;40,43), (Q.S.25;48,53),
(Q.S.27;63,58,88), (Q.S.30;46-51), (Q.S.31;34), (Q.S.32;27), (Q.S.33;9),
(Q.S.34;12), (Q.S.35;9,12), (Q.S.36;37), (Q.S.39;21), (Q.S.42;28,33),
(Q.S.45;5), (Q.S.46;24-25), (Q.S.51;7,41-42,47), (Q.S.52;44),
(Q.S.53;1), (Q.S.54;19-20), (Q.S.56;68-69), (Q.S.69;6-7), (Q.S.71;15),
(Q.S.72;8), (Q.S.86;1-4,11)
Fisika
bumi & Gunung : (Q.S.2;22), (Q.S.7;74), (Q.S.10;24), (Q.S.11;43),
(Q.S.13;2,3), (Q.S.15;19,82), (Q.S.16;15,81), (Q.S.18;47), (Q.S.19;90),
(Q.S.20;53,105-107), (Q.S.21;30,31,79), (Q.S.22;18,65), (Q.S.25;62),
(Q.S.26;63,149,150), (Q.S.27;61,88), (Q.S.28;71-72), (Q.S.29;40),
(Q.S.30;25), (Q.S.31;10), (Q.S.33;72), (Q.S.34;2,9,10), (Q.S.35;27,41),
(Q.S.36;37,40), (Q.S.37;5), (Q.S.38;18,19), (Q.S.41;10), (Q.S.50;744,
(Q.S.52;10), (Q.S.56;5-6), (Q.S.69;14), (Q.S.70;9,40), (Q.S.73;14),
(Q.S.77;10,27), (Q.S.78;7,20), (Q.S.79;30,32), (Q.S.81;3), (Q.S.88;19),
(Q.S.95;2), (Q.S.99;1-2), (Q.S.101;5)
Penjelasan dan pemilihan tentang nomor surat dan nomor ayat dalam
Al-Qur’an ini, disesuaikan dengan makna dan isyarat fisika yang terdapat
dalam beberapa terjemahan Al-Qur’an, oleh : Buya Mahmud Yunus, Buya
Hamka, Buya Quraish Shihab dan ditambah syaamil Al-Qur’an (terjemahan
perkata). Semua Al-Qur’an dan terjemahan tersebut telah mendapat
legalitas dari Departemen Agama Republik Indonesia.
Ya Allah, Ampunilah hamba bila ada yang salah dalam mempelajari
Al-Qur’an dan hikmahnya. Ajarkanlah hamba bila hamba bodoh dalam
memahaminya. Ingatkanlah hamba bila ada ayat yang hamba lupa
mengingatnya, Karuniakanlah pada hamba petunjuk, rahmat serta pahala
dari-Mu ya Allah, amin ya Rabbal Alamin.(Letmi Dwiridal, Fisika Dalam Al-Qur’an ; bab 1 jilid 2, tahun 2014)
source:http://fisika.fmipa.unp.ac.id/?p=413