Disusun oleh: Fatmawati (1303017)
Mahasiswa Magister Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia
Pertemuan kali ini, kami melaksanakan ujian-1.
Sebelum memulai ujian ada beberapa pertanyaan yang dibahas, salah satunya
mengenai teori kuantum. Dalam hal ini dibahas mengenai Entaglement (pengaitan).
Jackquie Romero, mahasiswa di Universitas Glasgow,
melakukan eksperimen dengan cara menebakkan laser ultraviolet pada sebuah
kristal optik yang dirancang untuk memisahkan foton energi tinggi menjadi
pasangan-pasangan foton infrared terbelit. Foton-foton ini kemudian masuk pada
hologram-hologram yang dikontrol oleh computer. Hologram ini menyaring foton-foton
pada keadaan momentum angular orbital yang saling komplementer. Foton yang
melewati hologram dihitung oleh detektor foton.
Lebih sederhananya Engtaglement
dilakukan dengan cara mengirim (foton-foton) pada cermin separuh-perak kemudian
cermin separuh-perak merefleksikan separuh dari foton-foton tersebut, dan
mentransmisikan separuhnya lagi. Jika dua foton tersebut diarahkan, satu ke
kanan dan satu ke kiri, mereka dan menjadi tergabung (entangled).
Hal
ini menunjukkan bahwa perbuatan di masa yang akan datang boleh jadi
mempengaruhi kejadian-kejadian di masa lalu. Artinya ketika kita merubah masa
yang akan datang maka masa lalu pun berubah, karena masa yang akan datang
merupakan bentukan atau disebabkan oleh masa lalu. Namun hal ini masih belum
dapat dibuktikan dengan teori tersebut.
Selanjutnya pada perkuliahan
ini dilaksanakan ujian-1 yaitu terdiri dari dua soal. Soal pertama diambil dari
kuliah 1 Kasser yang terdiri dari tiga poin. Poin pertama, mengenai dasar pemikiran kuliah 1 tesebut, poin kedua mengenai makna paham positivisme
logis, empirisisme logis, scientism/ saintisme dan poin ketiga keselarasan dan kontradiksi antara poin pertama dan kedua.
Sedangkan soal kedua terdiri dari dua poin, poin pertama membahas mengenai dasar pemikiran para ahli dalam memilih
satuan SI. Poin kedua, tentang
keabsahan beberapa tetapan alam bahwa tetapan tersebut adalah tetap.
Pertanyaan
Menurut bapak manakah yang lebih baik
ketika mengerjakan soal filsafat, berpikir Induktif atau Deduktif ?
ΓΌ
Mungkin lebih baik Induktif,
karena setidaknya inti dari maksud telah tersampaikan lebih dahulu, sehingga
langsung didapatkan informasi maksud dan tujuannya. Setelah itu baru dijabarkan
secara rinci.
Hasil Refleksi Materi
Dalam ujian pertama kali ini, kami
merasa bahwa ketika melaksanakan ujian kurang tenang, mungkin ini dikarenakan
ujian pertama kali sehingga kami merasa gugup. Kegugupan kami rasakan
berpengaruh terhadap langkah alur pemikiran kami, sehingga tidak jarang pola
pemikiran kami loncat-loncat, sehingga maksud yang kami ingin utarakan tidak
dapat tersampaikan. Semua ini akan kami
jadikan sebagai bahan introspeksi, sehingga ujian- ujian selanjutnya dapat
dilaksanakan lebih baik. Dan dapat memperoleh nilai yang maksimal. Amiin.
Hasil
refleksi tentang batasan barlaku, resiko
Batasan materi pada perkuliahan ini
mencakup pembahasan Buku Phylosophy of
Science by Jeffrey L Kasser (2006) dalam hal ini dibahas mengenai ilmu dan
filsafat, serta beberapa aliran didalamnya. Selain itu pada ujian ini dibahas
mengenai dasar pemikiran para ahli tentang satuan SI dan beberapa tetapan.
Sebenarnya materi tersebut sedikit ringkas akan tetapi kami kurang memahami
lebih mendalam. Mungkin cara pemikiran kami yang kurang berfalsafat sehingga
materi kurang terserap secara keseluruhan.
Niat
kecil konkret demi common good
Ternyata berfalsafah memang harus
diajarkan sejak dini, dimana selalu dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang
sederhana hingga dapat melatih berpikir kritis. Hal ini akan kami terapkan pada
anak didik kami, sehingga mereka terlatih bepikir kritis.