banner

Hedonisme


Disusun oleh: Fatmawati (1303017)
Mahasiswa Magister Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia

*   Intisari diskusi Selasa, 13 Mei 2014
Hedonisme adalah paham sebuah aliran filsafat dari Yunani. Tujuan paham aliran ini, untuk menghindari kesengsaraan dan menikmati kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan di dunia. Kala itu, hedonisme masih mempunyai arti positif. Dalam perkembangannya, penganut paham ini mencari kebahagiaan berefek panjang tanpa disertai penderitaan. Mereka menjalani berbagai praktik asketis, seperti puasa, hidup miskin, bahkan menjadi pertapa agar mendapat kebahagiaan sejati. Namun waktu kekaisaran Romawi menguasai seluruh Eropa dan Afrika, paham ini mengalami pergeseran ke arah negatif dalam semboyan baru hedonisme. Semboyan baru itu, carpe diem (raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi kamu hidup), menjiwai tiap embusan napas aliran tersebut. Kebahagiaan dipahami sebagai kenikmatan belaka tanpa mempunyai arti mendalam.
Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat "apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?". Hal ini diawali dengan Sokrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Aristippos dari Kyrene (433-355) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan. Aristippos memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang lain lagi. Pandangan tentang 'kesenangan' (hedonisme) ini kemudian dilanjutkan seorang filsuf Yunani lain bernama Epikurus (341-270 SM). Menurutnya, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah kodrat alamiah. Meskipun demikian, hedonisme Epikurean lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan badani saja seperti Kaum Aristippos, melainkan kesenangan rohani juga, seperti terbebasnya jiwa dari keresahan.
*   Pertanyaan apakah perilaku Hedonisme itu selalu berkonotasi negatif?
ü Tidak selalu, tergantung konteks. Jika prinsip hedonisme itu diterapkan pada gaya hidup yang negatif, dalam arti melakukan segala hal asalkan membuat diri sendiri senang tetapi melanggar norma, moral dan agama maka prinsip hedonisme seperti ini yang sifatnya negatif.
*   Hasil Refleksi Materi
Pada diskusi kali ini kami membahas mengenai hakikat hedonisme, dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata-kata hedonis, inilah yang kemudian muncul dalam pemikiran kami, untuk mengetahuinya lebih dalam. Hedonis biasa diindentikan dengan hidup bermewah-mewah dan berfoya-foya, akan tetapi setelah kami diskusikan makna hedonis tersebut merupakan kesenangan, dimana kesenangan setiap individu berbeda-beda. Secara umum kesenangan adalah ketika apa yang kita inginkan dapat terwujud dan dapat dinikmati yang biasanya bersifat nyata keduniawian, akan tetapi menurut kami lebih dalam dari hal tersebut, bahwa kesenangan juga mencakup ketenangan jiwa dan rohani, itulah yang kami anggap kesenangan hakiki. Selain itu sebagai umat beragama kami yakin bahwa akan ada alam akhirat yang kekal, sehingga hidup didunia hanyalah sementara.
*   Batasan keberlakuan materi
Pembahasan mengenai hedonisme yang diartikan sebagai hal yang negative ternyata pada awalnya adalah hal yang positif dimana sekarang yang menjadi parameter kesenangan kita adalah kesenangan duniawi saja. Dalam hal ini yang menjadi batasan adalah hedonis dalam pandangan kaum Atheis yang hanya pada kesenangan duniawi saja, tentu akan berbeda dengan orang beragama lainnya. Ini sama halnya dengan dua sisi mata pisau, dimana sebuah pisau ketika berada ditangan koki yang handal maka akan menciptakan makanan yang enak dan lezat. Namun jika pisau tersebut berada ditangan perampok maka hal negatiflah yang akan terjadi jadi pada dasarnya semua itu tergantung pada individu karena setiap individu memiliki cara pandang yang berbeda.
*   Common good
Kadang penggunaan bahasa berpengaruh pada paradigma kita, padahal kita tidak mengerti benar asal kata tersebut, hanya anggapan dari perorangan. Hal inilah yang menjadi dasar bagi kami untuk selalu berkata dan menggunakan bahasa sesuai dengan yang sebenarnya. Terutama kita yang menjadi seorang pendidik dan orangtua anak-anak kita kelak, bahwa bahasa adalah ekspresi jiwa, sesuai dengan kata-kata bijak bahwa perkataan adalah doa, maka selalu berucaplah yang baik. Pemahaman yang salah tentang pemakaian kata seperti halnya kata hedonis, harus disampaikan pada anak-anak kita dengan cara yang baik dan yang sebenar-benarnya.

Entri Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

joint now

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme
Terima kasih atas kunjugan dari para pencari ilmu sekalian, semoga apa yang kami tulis dapat berguna bagi anda.http://mediaolinefisika.com, jangan lupa komentarnya.karya WINARNO,M.Pd.Si dalam inovasi media pembelajaran