Disusun oleh: Fatmawati (1303017)
Mahasiswa Magister Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia
Mengumpulkan informasi mengenai diri siswa melalui komunikasi
personal adalah dengan cara mencari tahu apa yang telah dipelajari oleh siswa melalui
interaksi dengan mereka. Contoh bentuk-bentuk asesmen
meliputi beberapa hal ini, yaitu: (1) melihat dan menanggapi komentar siswa
pada jurnal dan logs, (2) mengajukan pertanyaan selama pembelajaran
berlangsung, (3) menginterviu siswa saat diskusi, (4) mendengarkan siswa selama
siswa berpartisipasi di kelas, dan (5) memberikan tes lisan.
Kita biasanya menganggap komunikasi
personal bukan merupakan penilaian formal, melainkan penilaian informal karena hasil
yang ada tidak langsung digunakan untuk menilai. Namun, selama target
pembelajaran dan kriteria penilaian sudah jelas, maka informasi yang didapat melalui
komunikasi personal dapat digunakan untuk memberikan feedback deskriptif kepada siswa, rencana instruksional, refleksi diri
siswa dan penetapan tujuan. Jika direncanakan dengan baik dan dicatat secara sistematis,
informasi yang didapat dari komunikasi personal dapat digunakan sebagai dasar untuk
asesmen pembelajaran.
Sebagai metode asesmen, maka komunikasi
personal berfungsi untuk mengasesprestasi belajar
siswa, yaitu berupa pengetahuan siswa, penalaran siswa, keterampilan siswa dan kemampuan
siswa membuat suatu produk. Dalam konteks mengases kemampuan penalaran siswa,
metode komunikasi personal merupakan metode yang paling baik karena dapat mengumpulkan
informasi-informasi yang akurat mengenai apa yang diketahui siswa. Dalam teknis
pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara meminta siswa untuk berpikir lebih keras
lagi atau guru dapat mengajukan pertanyaan tindak lanjut untuk mengetahui
proses penalaran siswa..
Beberapa kendala-kendala
dalam asesmen komunikasi personal :
1)
Kendala
yang bersumber dari siswa : kemampuan berbahasa siswa, keadaan emosi siswa,
kondisi kesehatan siswa, kecanggungan siswa, tekanan dari teman, motivasi diri
siswa, kecerdasan siswa dan kepercayaan diri siswa
2)
Kendala
yang bersumber dari konteks asesmen : ketidakjelasan intruksi, hubungan dengan
asesor yang kurang akrab, ketidaknyamanan, dan ketidakpekaan budaya
3)
Kendala
yang bersumber dari pelaksanaan metode : pertanyaan yang kurang baik, kurangnya
jumlah pertanyaan yang diajukan, penampilan sampel yang representatif, dan problems with accurate record keeping
ASESMEN PORTOFOLIO Asesmen portofolio merupakan asesmen otentik yang
menggambarkan kemajuan belajar siswa dengan bukti-bukti yang diseleksi bersama
oleh siswa dan guru, mendokumentasikan kemajuan siswa selama
kurun waktu tertentu mengetahui bagian-bagian yang perlu diperbaiki,
membangkitkan kepercayaan diri dan motivasi untuk belajar sehingga mendorong tanggung jawab siswa untuk belajar.
Hatta (2004) mengemukakan penilaian portofolio dapat
digunakan untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu:
(1) Menghargai perkembangan peserta didik, (2) Mendokumentasikan proses
pembelajaran, (3) Memberi perhatian pada prestasi kerja, (4) Merefleksikan
kesanggupan mengambil resiko dan melakukan eksperiment, (5) Meningkatkan efektivitas
proses pembelajaran, (6) Bertukar informasi antara orang tua peserta didik
dengan guru lain, (7) Mempercepat pertumbuhan konsep diri positif peserta
didik, (8) Meningkatkan kemampuan refleksi diri, dan (9) Membantu peserta didik
merumuskan tujuan.
Fungsi penilaian
portofolio dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu:
1. Portofolio sebagai sumber informasi
2. Portofolio sebagai alat pembelajaran menjadi komponen kurikulum,
3. Portofolio sebagai alat penilaian
autentik (authentic assessment).
4.
Portofolio
sebagai sumber informasi dalam melakukan self-assessment.
Jika dilihat
dari sistem, ada dua jenis portofolio yaitu :
1.
Portofolio proses : working portfolio à Peserta didik mengumpulkan semua hasil
kerja termasuk coretan-coretan (sketsa), buram, catatan, kumpulan untuk
rangsangan, buram setengah jadi, dan pekerjaan yang sudah selesai.
2.
Portofolio
produk : show portfolio dan ocumentary
portfolio. Menekankan pada penguasaan tugas dalam standar kompetensi,
kompetensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar,
Pelaksanaan penilaian portofolio
hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai
berikut: (1) Mutual trust (saling
mempercayai), (2) Confidentiality
(kerahasiaan bersama), (3) Join Ownership
(milik bersama), (4) Satisfaction
(kepuasan), dan (5) Relevance
(kesesuaian).
Menurut
Barton dan Collins dalam S. Surapranata dan M. Hatta (2004), terdapat beberapa karakteristik esensial penilaian portofolio, yaitu : Multi
sumber, Autentik, Dinamis, Eksplisit, Integrasi, Kepemilikan, dan Beragam.
Menurut Nuryani Y. Rustaman (2008), karakteristik
portofolio yaitu:
1. Mewakili penekanan penggunaan bahasa dan pemahaman
budaya.
2. Mewakili pendekatan kolaboratif terhadap penilaian.
3. Mewakili rentang kinerja siswa dalam membaca, menulis,
berbicara, dan mendengar selain pemahaman budaya.
4. Menekankan pada apa yang dapat dilakukan siswa.
5. Mewakili kemajuan siswa seiring berjalannya waktu,
6. Mengajak siswa menetapkan tujuan.
7. Mengukur pencapaian setiap individu siswa,
8. Menangani perbaikan, usaha, dan pencapaian,
9. Dapat dilakukannya penilaian terhadap proses dan
produk,
10. Menghubungkan pengajaran dan penilaian dengan
pembelajaran.
Menurut
Anthoni J. Nitko (1996), ada lima tahap untuk
menggunakan sebuah sistem portofolio yaitu: (1) menentukan tujuan, (2)
menentukan isi portofolio, mengembangkan kriteria penilaian, dan menyusun
format penilaian, (3) menggunakan portofolio dalam praktik, (4) menilai
pelaksanaan portofolio dan (5) menilai portofolio secara umum.
Kelebihan model
penilaian portofolio, antara lain:
1. Dapat melihat perkembangan kemampuan
peserta didik.
2. Membantu menilai secara adil, obektif, dan
transparan.
3. Mengajak peserta didik untuk belajar
bertanggung jawab.
4. Meningkatkan peran serta peserta didik
secara aktif.
5. Memberi kesempatan untuk meningkatkan
kemampuan siswa.
6. Membantu guru mengklarifikasi program
pembelajaran.
7. Terlibatnya berbagai pihak dalam
melihat pencapaian kemampuan peserta didik.
8. Memungkinkan peserta didik melakukan self-assessment, refleksi, dan critical thinking.
9. Memungkinkan guru melakukan penilaian
secara fleksibel,
10. Guru dan peserta didik sama-sama
bertanggung jawab untuk merancang dan
menilai kemampuan belajar.
11. Dapat digunakan untuk menilai kelas
yang heterogen.
12. Memungkinkan guru memberikan hadiah
terhadap setiap usaha belajar peserta didik.
Kekurangan penilaian portofolio, antara lain:
1. Membutuhkan waktu dan kerja ekstra.
2. Penilaian portofolio dinilai kurang
reliabel.
3. Ada kecenderungan guru hanya
memperhatikan pencapaian akhir sehingga proses penilaian kurang mendapat
perhatian.
4. Jika guru melaksanakan proses
pembelajaran yang bersifat teacher-oriented,
kemungkinan besar inisiatif dan kreativitas peserta didik akan terbelenggu
sehingga penilaian portofolio tidak dapat dilaksanakan dengan baik.
5. Orang tua peserta didik sering berfikir
skeptis karena laporan hasil belajar anaknya tidak berbentuk angka.
6. Penilaian portofolio masih relatif baru
sehingga banyak guru, orang tua, dan peserta didik yang belum mengetahui dan
memahaminya.
7. Tidak tersedianya kriteria penilaian
yang jelas.
8. Analisis terhadap penilaian portofolio
agak sulit dilakukan sebagai akibat dikuranginya penggunaan angka.
9. Sulit dilakukan terutama menghadapi
ujian dalam skala nasional.
10. Dapat menjebak peserta didik jika
terlalu sering menggunakan format yang lengkap dan detail.