banner

Sikap Ilmiah


Disusun oleh: Fatmawati (1303017)
Mahasiswa Magister Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia


A.   Segi termenarik yang ditemukan dalam suatu jurnal
Popper dan aliran positivist logis mengedepankan “context of justification” dibandingkan dengan “context of discovery”. Mereka tertarik pada logika konfirmasi atau pembenaran, tentang apa hubungan antara pengamatan terhadap sebuah teori.
Dalam pandangan Hume, metode induksi hanya didasarkan pada prinsip kesamaan (similarity). Padahal prinsip semacam ini bukanlah prinsip yang bisa dipegang teguh. Sebab prinsip ini telah menggunakan pengalaman di masa lalu untuk membuat kesimpulan tentang masa yang akan datang, padahal masa yang akan datang belum tentu sama dengan masa lalu. Hal inilah yang ditolak oleh Poper. Menurut Popper, sebuah observasi selalu bersifat selektif, artinya di dalamnya dibutuhkan sebuah batasan yang jelas tentang apa masalah yang akan diteliti, objek yang harus diteliti, serta cara pandang yang akan dipakai. Ia memandang bagaimanapun pernyataan universal tidak bisa dijustifikasi/ verifikasi oleh pengalaman/ pengamatan partikular (tertentu). Yang bisa dilakukan adalah falsifikasi. Falsifikasi tidak berbentuk induksi, melainkan deduksi. Sebagaimana dikenal dalam logika deduktif, pernyataan universal berkontradiksi dengan negasi partikularnya. Jadi, ketika ada pernyataan bahwa “seluruh angsa berwarna putih”, maka jika ditemukan angsa berwarna hitam, berarti peryataan tersebut terfalsifikasi (salah).
Karena itu, menurut Popper, dalam konteks sains, yang diperlukan bukanlah menjustifikasi suatu hipotesa dengan pengamatan, apalagi melakukan induksi dari pengamatan untuk merumuskan hukum, popper menyatakan bahwa teori tidak dapat diverifikasi, tetapi dapat dikuatkan (corroboration). Karena teori tidak dapat dikatakan benar atau salah, tetapi dapat dikatakan mungkin benar atau mungkin salah. Yang diperlukan adalah membentuk suatu sistem hipotetis dan mencari mana yang paling mampu bertahan terhadap falsifikasi. Artinya apabila suatu hipotesis tahan uji atau belum dapat dibuktikan salah, maka hipotesis tersebut semakin dikuatkan.
B.    Spesifikasi Sumber
Buku Phylosophy of Science by Jeffrey L Kasser (2006) pada Lecture Ten (Induction as Illegitimate) Hal 171-183 atau softcopy yang bisa diminta dari bapak A Rusli atau mahasiswa dari Bapak Rusli.
C.    Pertanyaan & dugaan jawaban
1.    Jika sebuah pernyataan yang pernah diujikan (secara falsifikasi) dan dikatakan pernyataan tersebut salah, apakah kesalahan tersebut dapat dikatakan sebagai kesalahan mutlak?
ü Tidak, hipotesis >> pengujian >> jika tidak valid >> asumsi (nilai: salah) karena teori yang telah diujikan dan hasilnya salah adalah merupakan asumsi. Sebagai contoh pernyataan bahwa cahaya merupakan gelombang yang diutarakan oleh Huygens namun terbantahkan bahwa gelombang harus merambat melalui medium. Tidak dikatakan kesalahan mutlak, bahkan teori ini kemudian diperkuat oleh pernyataan Michael faraday hingga berkembang dan disempurnakan oleh Albert Einstein.
2.    Jika seorang ilmuwan telah mendapatkan nobel (penghargaan), akan tetapi dikemudian hari teorinya salah. Bagaimana kedudukan penghargaan tersebut?
ü Mungkin penghargaan tersebut akan tetap diakui, akan tetapi teorinya diperbaharui dengan segala pembenarannya.
D.   Hasil refleksi tentang pemanfaatan materi
Dalam ilmu pengetahuan, teori atau hukum yang telah ditemukan atau saat ini kita gunakan belum tentu benar karena pada hakikatnya teori tersebut tidak mutlak. Artinya suatu teori tersebut dapat tidak diakui pada masa depan jika telah ditemukan fakta/ bukti baru yang melemahkan teori tersebut. Maka, sebenarnya ilmu pengetahuan berkembang setiap masa dan teori tersebut ada masanya diakui ataupun dapat tergantikan dengan teori yang baru. Kesimpulannya suatu pengamatan  (percobaan) tertentu hanya berlaku dan terbatas pada saat itu serta tidak dapat dijadikan kesimpulan secara umum karena bisa jadi kesimpulan tersebut terbantahkan dikemudian hari.
E.    Hasil refleksi tentang batas-batas keberlakuan materi tersebut.
Batasan dalam penggunaan falsifikasi yang telah dipaparkan diatas, berlaku pada context of justification atau pengujian dan pembenaran terhadap teori yang telah ditemukan dengan menguji suatu teori/ pernyataan berdasarkan ada tidaknya bukti/ fakta yang melemahkan. Hal ini berbeda dengan pengujian ketika proses penemuan (discovery) teori tersebut, karena para ilmuwan melakukan percobaan (dengan pengujian-pengujian tertentu) dalam proses penemuan teori tersebut.
F.    Satu niat kecil konkret dengan materi itu, common good Menekankan sikap ilmiah dalam pembelajaran terhadap anak didik kita, sebagai upaya mengembangkan potensi mereka dan sikap menghargai ilmu pengetahuan sebagai sebuah penemuan para ahli terdahulu. Dengan begitu diharapkan anak didik kita  dapat terbentuk pola pikir dan sikap ilmiah seperti para ilmuwan yang telah mendedikasikan hidupnya pada ilmu pengetahuan.

Entri Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

joint now

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme
Terima kasih atas kunjugan dari para pencari ilmu sekalian, semoga apa yang kami tulis dapat berguna bagi anda.http://mediaolinefisika.com, jangan lupa komentarnya.karya WINARNO,M.Pd.Si dalam inovasi media pembelajaran